Translate

Showing posts with label Up to Yu. Show all posts
Showing posts with label Up to Yu. Show all posts

Wednesday, September 18, 2013

Kelahiran Pemuda yang tak Berguna


Malam Minggu yang lalu adalah malam kelabu bagi saya dan mungkin juga bagi tetangga-tetangga saya. Ada acara kelahiran organisasi pemuda. Acara seremonialnya barangkali hanya sesaat saja, namun acara hiburannya bikin gila. Hingga lewat tengah malam, musik hiburan berirama house dan dangdut menghentak dan mengusik tidur warga.

Saya sendiri tidak begitu ngeh dengan kegiatan kepemudaan itu. Dari spanduk yang terpampang hingga keesokan harinya, sepertinya tema dan visinya bagus. Namun setelah malam itu, saya jadi sangsi, apakah betul organisasi itu akan bisa melahirkan generasi yang berguna bagi masyarakat jika [ada hari kelahirannya sudah sedemikian mengganggu.

Bukannya antipati dengan musik dangdut atau acara orgen. Masalahnya kegiatan semacam itu sudah sangat mengganggu. Tidak hanya pada saat seremonial seperti di atas, pada acara-acara baralek pun sama mengganggunya. Tidak hanya hiburan saja, pemasangan tenda yang memasang jalan pun menghambat aktivitas warga.

Ngadain acara sih sah-sah saja. Tapi jika sampai ngerugiin orang dengan memblokir jalan dan mengganggu tidur orang hingga hampir subuh itu namanya sudah tidak normal lagi. Ada kepentingan orang banyak yang terganggu. Padahal yang liat ngeliat acara itu kan cuma segelintir orang, tapi yang ngerasain penderitaan jalan dihambat dan musiknya yang mengganggu tidur lebih banyak lagi.

Kebayang gak sih, di hari saat semestinya doa yang diterima, tapi justru umpatan yang didapat. Sah-sah saja dapat ijin dari pejabat makai jalan buat perhelatan, tapi ijin pejabat belum tentu mewakili ijin masyarakat banyak.

So, jika kamu ngadain acara nanti coba deh mikirin lagi betapa tidak enaknya jika ada kepentingan umum yang tergadaikan. Jika kamu ngadain acara nanti, tidak hanya enak sama kamu, organisasi kamu atau kelompok, tapi enak juga bagi orang banyak.

Beban Nama

Abdul Qadir Jaelani adalah salah seorang tokoh Islam terkemuka di dunia.  Beliau adalah syekh yang sangat dihormati oleh ulama Sunni dan ulama Sufi. Di usia belia, dia sudah meninggalkan kampungnya untuk menuntut ilmu dan pada akhirnya menjadi tempat untuk menimba ilmu.

Abdul Qadir Jaelani adalah nama yang dipakai oleh musisi Ahmad Dhani untuk putra bungsunya. Barangkali dengan menamakan putranya nama tokoh besar muslim di atas, Dhani berharap anaknya akan mewarisi keluhuran dan nilai-nilai baik ulama sufi di atas. Sayang, si bungsu yang dipanggil Dul itu sekarang terkena masalah.

Ahmad Dhani bukan satu-satunya orang tua yang menamakan anaknya dengan nama-nama Islami dengan arti dan makna mulia. Dalam keseharian kita sering bertemu dengan anak-anak, teman-teman atau orang-orang yang namanya bernuansa agamis tersebut. Bahkan belakangan mereka cukup banyak, membuktikan tidak sedikit orang tua berharap anak-anaknya menjadi seperti nama yang diberi.

Sayangnya, dari sekian orang bernama  bagus-bagus tersebut, tidak sedikit dari mereka berperangai sebaliknya. Ada Fathanah yang cerdas menipu, seorang bernama Luthfi yang kelembutannya justru merugikan, demikian pula Amin yang tidak amanah. Banyak pula kita lihat berbagai nama dilengkapi nama nabi yang sifatnya dan perilakunya berbeda seratus delapan puluh derajat dengan sifat nabi.

Tidak ada yang salah ketika orang tua menitip doa lewat nama. Namun salah jika nama - terlebih bernuansa agama - hanya dilekatkan begitu saja. Tidak ada upaya dari orang tua mengarahkan anak-anaknya seperti nama yang mereka berikan. Kalau hanya berharap suatu saat anak akan baik sebaik namanya tanpa diiringi tuntunan yang baik pula, maka nama besar itu tidak akan ada artinya. 

Tapi bukan salah orang tua semata jika perilaku bertolak belakang dengan nama. Ada kesempatan untuk selalu menjalani doa yang ada pada nama. Ketika beranjak dewasa dan berakal, pemilik namalah yang bertanggung jawab membesarkan dan menjaga namanya. Tanpa ada upaya berlaku baik sesuai kebesaran nama itu, alamat nama baik akan ternoda.

Gone with the Wind

Alkisah pada suatu pagi di akhir pekan, di sebuah pasar pagi. Keramaian antar pedagang kaki lima dan pembeli melakukan transaksi jual beli. Kedua belah pihak tawar menawar harga di tengah kondisi pasar yang becek, sempit dan berbau campuran aneka dagangan.

Dalam kisah itu, muncullah pasangan walikota dan istrinya berjalan-jalan di sekitar pasar tanpa pengawalan formal. Keduanya berjalan agak ke pinggir-pinggir dari keramaian. Semua orang tidak peduli akan kehadiran mereka. Semua orang sepertinya bahkan tidak mengenal sosok mereka.

Dalam kisah sebenarnya, tidak sedikit pejabat kita yang tidak dikenal oleh orang-orang yang mereka pimpin. Banyak kepala daerah; gubernur, walikota, bupati, atau wakil rakyat sekalipun yang tidak dikenal masyarakat yang mereka wakili. Mereka ada tapi tidak terasa dan tidak memberi makna.

Banyak wajah pejabat dan wakil rakyat berserakan di papan iklan sepanjang jalan, tapi tidak membumi. Kalau berjalan di tengah masyarakat tetap saja tidak dikenal dan dihargai. Gimana bisa dikenal, fotonya hasil photoshop gitu. Tambah lagi kinerja mereka juga tidak merakyat alias tidak pro rakyat.

Dalam konteks kaum muda yang masih merintis untuk menjadi seseorang nantinya ada pelajaran yang dipetik dari kondisi di atas. Tidak perlu menunggu menjadi pejabat, tokoh, atau orang penting dulu untuk menjadi orang yang bermakna. Banyak hal yang bisa dilakukan menjadi berguna bagi orang lain. 

Menjadi terkenal mungkin bukan tujuan utama. Berlaku dan berbuat dengan hati tentu dengan sendirinya akan membuat kehadiran jadi bermakna sekaligus membekas. Tidak ada motivasi lain selain hanya untuk kebaikan.

Dalam menjalani hidup banyak pilihan yang bisa diambil. Ketika kekuasaan menghampiri, perbuatanlah yang akhirnya menentukan; dikenang karena berjasa, dikenang karena durjana, atau hilang bak ditiup angin begitu saja.

Sayang sekali, sepanjang perjalanan negara kita hanya menorehkan segelintir nama-nama penguasa yang berjasa. Dalam konteks lain, tidak hanya penguasa, tapi ada teman, kerabat, yang kehadirannya tidak memberi makna. Pada akhirnya mereka tidak berarti apa-apa, mereka gone with the wind.       

Malu

Suatu pagi, usai anak saya mandi, tubuhnya saya bedaki. Anak saya yang baru berumur lima tahun itu spontan protes. Dia tidak mau seperti adik bayi. Alasannya dia malu kalau nanti ketahuan teman-temannya dan akan ditertawakan di sekolah nanti.

Bukan kali pertama anak saya itu menyatakan kekhawatiran malu akan ditertawakan teman-temannya atau orang lain. Saya heran dari mana dia bisa punya pemikiran tentang rasa malu akan ditertawakan teman-temannya untuk urusan bedak, warna kaos kaki yang menyolok, botol air yang ada gambar bunganya dan hal-hal kecil lainnya. Di tengah rasa bangga akan sikap kritisnya, saya juga merasa khawatir dengan alasan malunya itu.

Saya tidak mau anak saya peduli pada apa pendapat negatif orang. Saya tidak mau anak saya malu karena hal-hal sepele yang sifatnya malu karena bukan perbuatan terlarang. Karena dasar itu, saya terus mengingatkannya untuk tidak memusingkan apa kata orang-orang sepanjang yang dia lakukan tidak salah dan merugikan orang lain.

Saya merasa penggunaan rasa malu oleh bangsa kita mengalami pergeseran yang sangat ironis. Di tengah masyarakat banyak orang yang malu jika tidak punya kendaraan, tidak punya jabatan dan berpangkat, tidak punya rumah besar dan bagus, atau tidak berkue saat lebaran. Rasa malu diukur dengan materi. Untuk sebagian perempuan ada rasa malu kalau tidak ramping, tidak berkulit putih, tidak berbehel, tidak berkontak lense atau tidak bisa tampil seksi. Rasa malu diukur dari penampilan fisik. Tidak sedikit para remaja malu karena masih jomblo, tidak punya teman tajir, tidak gaul. Rasa malu diukur dari gengsi.

Di antara rasa malu yang tidak sedikitpun menyentuh substansi kepribadian itu, bangsa kita tidak malu berlaku tercela dan salah secara agama. Karena tuntutan malu secara materi oleh anak, istri, ataupun keluarga banyak orang tidak malu maling uang rakyat dan negara. Karena malu pada keadaan fisik, banyak orang yang tidak malu bertubuj palsu; operasi dan tempelan kosmetik yang pudar pada waktunya. Karena malu didasarkan gengsi, banyak remaja yang terjebak perbuatan asusila; sex bebas, ngedrugs, atau mengekspos tubuh untuk umum. Tingkat rasa malu bangsa ini sungguh-sungguh memalukan.

Entah bagaimana caranya mengembalikan nilai rasa malu itu pada tempat selayaknya. Rasa malu bangsa kita sudah sedemikian memprihatinkan. Kita menjadi bangsa yang tidak tahu malu, menghalalkan segala cara untuk memuaskan nafsu; memoles kejahatan dengan kebaikan.

Kepada anak-anak saya akan selalu saya katakan, kita harus malu pada diri sendiri jika kita berlaku salah dan melanggar ajaran agama. Meletakkan malu pada orang lain untuk hal-hal yang duniawi semata, hanya akan menjadikan diri sebagai orang yang tidak tahu malu.

Pawai dan Bendera

Sabtu pekan ini (rencananya akan - tulisan ini ditulis pertengahan Minggu ini) ada pawai di Bukittinggi. Kegiatan baris berbaris dengan segala atraksi jalanan sebagai bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun kemerdekaan republik ini. Sementara Sabtu lalu, walau sepertinya berkurang dari tahun ke tahun, beberapa tempat dihiasi bendera merah putih sebagai penanda HUT RI ke 68.

Sepanjang yang saya lihat dan rasakan  - dari tahun ke tahun, apresiasi masyarakat kita terhadap peringatan hari kemerdekaan sepertinya berkurang. Jika ini dikorelasikan dengan kondisi bangsa dan negara ini, saya merasa ada degradasi rasa cinta tanah air di republik ini. Makin ke sinin banyak masyarakat yang tidak begitu peduli dengan sejarah dan nilai-nilai patriotisme leluhur. Akibatnya, kehidupan berbangsa pun mulai mengendor. Bangsa kita hidup dalam lingkaran hedonis nan individualis. Mementingkan diri sendiri.

Pendapat saya bukan tanpa dasar. Dari sekian banyak anak sekolah, remaja, dan pegawai, sedikit sekali di antara mereka yang hapal sila-sila Pancasila. Itu belum pada taraf implementasi nilai dan butir-butirnya loh. Trus, tidak banyak pula yang bisa menyanyikan lagu kebangsaan. Pas saat hari-hari penting nasional, - termasuk saat perayaan HUT RI - tidak seberapa yang mau mengibarkan bendera merah putih. 

Memang sih nilai patriotisme dan nasionalisme bangsa ini tidak bisa diukur dengan tingkat kehapalan lagu, sila atau bendera yang berkibar di halaman rumah. Tapi kalau indikasi tersebut disangkutkan dengan perilaku masyarakat yang semakin individualis hedonis, ini perlu dikhawatirkan. Liat saja korupsi yang semakin diberantas justru semakin dilakukan. Liat pula tawuran antar kelompok atau warga atas nama sesuatu yang tidak penting. Di kalangan remaja gaya hidup semakin tidak mencerminkan identitas kebangsaan. Materi seolah lebih penting dari hubungan bersahabat dan bermasyarakat.

Saya masih teringat saat masih di Belanda dulu. Orang Belanda yang katanya individualis itu ternyata lebih cinta tanah air. Komparasinya sama dengan penuturan saya di atas. Saat momen yang bersifat kebangsaan dan kenegaraan semisal Hari Ratu, Hari Kemerdekaan, Festival-festival, atau pertandingan bola, maka seluruh penjuru negeri Belanda akan dipenuhi atribut Belanda; bendera dan warna oranye.

Pemasangan atribut dan ornamen khas Belanda itu dijumpai sangat masif. Akibatnya, orang-orang imigran dan pendatang sesaat di Belanda pun terpengaruh merasakan dan mencintai Belanda. Mereka menjadi peduli pada negeri yang mereka pijaki.

Pawai, bendera dan atribut lainnya memang bukan satu-satunya bukti kecintaan kita pada negeri ini. Tapi, dengan menggunakannya, setidaknya kita sudah memberi bukti bahwasanya kita mengingat dan mengapresiasi kemerdekaan yang tengah kita nikmati ini. Merdeka!

Polesan Lebaran

Pertengahan minggu depan kita akan meninggalkan Ramadan. Idul Fitri sudah menanti kita. Setiap orang menyambut Idul Fitri menyikapi dengan cara berbeda-beda. Ada yang meninggalkan Ramadan dengan cara biasa-biasa saja, cara sederhana, tapi tidak sedikit yang menyambut dengan gaya foya-foya.

Tidak ada salahnya kita menyambut lebaran dengan gembira ria. Namun bukan berarti kita harus menyikapi lebaran dengan gaya bermewah-mewahan. Karena bagaimanapun, Idul Fitri bukan ajang penampilan baru, pamer pakaian baru atau sajian kue di atas meja.

Tidak dipungkiri seluruh umat Islam senang merayakan Idul Fitri. Namun substansi kesenangan kita seharusnya bukan karena gaya hidup duniawi saja.    Perayaan lebaran semestinya justru menjadi tolak ukur bagi kita umat muslim, sejauh mana Ramadan telah berhasil membentuk pribadi baru. Pribadi yang tawakal.

Gaya hidup yang lebih memikirkan duniawi di kalangan masyarakat kita sudah cukup memprihatinkan. Apalagi gaya hidup itu dikait-kaitkan dengan ritual keagamaan. Kita seakan menjadikan praktik beragama sebagai tolok ukur gaya hidup.

Jangankan dalam menyambut lebaran. Saat Ramadan saja sudah seperti itu. Banyak yang lapar mata dan kerasukan menjelang berbuka. Masak atau beli ini dan itu hingga pengeluaran justru membengkak selama puasa. Padahal, substansi Ramadan itu adalah mengajarkan manusia untuk hidup sederhana.

Maka akan sangat ironis sekali gaya hidup yang duniawi juga diterapkan menyambut Idul Fitri. Sah-sah saja berbaju baru dan berkue aneka rasa. Namun jika tidak ada, bukan berarti harus dipaksa. Bagi yang berada, sebaiknya juga tidak perlu pamer gaya. Inti dari Idul Fitri itu hanya pribadi sendiri yang rasakan. Sepanjang sudah menjadi pribadi yang baik, itu artinya berhasil selama Ramadan. Kalau pribadi dan perilaku masih begitu-begitu saja, pakaian dan segala yang baru tidaklah akan memberi makna. Bagaimanapun lebaran bukan polesan.

Romansa Ramadan

Setiap tarawih saya selalu berusaha salat di masjid yang jauh dari rumah. Dalam perjalanan ke tempat ibadah itu, banyak hal janggal yang saya lihat. Banyak pemandangan yang tidak harmonis dengan nilai-nilai bulan suci. Pemandangan kalangan muda yang justru terlihat dimabuk cinta saat semestinya berpuasa.

Sebenarnya pemandangan muda-mudi yang pacaran tidak begitu janggal di masa sekarang ini. Kalau dulu gaya pacaran saya di masa remaja hanya jalan beriringan saja, sekarang sudah saling tuntun-tuntunan. Kalau dulu hanya tatap-tatapan, sekarang malah saling suap-suapan.

Yah, segala sesuatu pasti ada masanya. Menurut saya, gaya pacaran sekarang cukup mengkhawatirkan. Ironisnya, hubungan pacaran yang mulai tidak sehat secara agama itu makin menjadi-jadi di bulan Ramadan. Iblis dan setan seakan sudah lepas ikatan bagi sebagian remaja.

Sepanjang jalan menuju masjid untuk tarawihan itulah, saya lihat pasangan muda mudi yang mesra saat boncengan. Yang cowok merasa gagah didekap erat ceweknya, walau mereka tidak ngebutan. Di luar masjid, sepasang kekasih duduk asik bicara sambil pegang tangan saat adzan berkumandang. Saat berjalan pulang melewati Jam Gadang, tidak sedikit pasangan muda-mudi yang jalan beriringan ngakak sambil berangkulan.

Sebenarnya peluang dimabuk kasmaran saat tarawihan itu terbuka besar bagi muda-mudi. Bagi mereka yang biasanya tidak boleh keluar di malam hari, maka selama Ramadan ada alasan tarawihan sebagai modus. Nah, yang memang sudah punya niatan melenceng dari awal justru pergi berkencan bukannya tarawihan. Dari rumah bermukena dan sarungan,  di luar malah berkencan. Maka yang terlihat bukannya pemandangan yang menentramkan tapi malah pemandangan yang tidak mengenakkan.


Ironis memang. Di saat Ramadan seharusnya menjadi momen menyucikan diri membersihkan hati, sebagian remaja justru menodainya dengan kebohongan dan pacaran. Di saat Islam mengajarkan untuk menjadi orang yang bertakwa, sebagian muda-mudi justru menodai hati dengan hawa nafsu belaka.

Seperti yang saya sebutkan tadi, segala sesuatu itu ada masanya. Walaupun gaya berpacaran mengalami degradasi dan sudah sangat mengkhawatirkan, bukan berarti kita jadi toleran. Maka, selama Ramadan sebaiknya perilaku yang sudah menyimpang itu sebaiknya diluruskan.  Sepanjang Ramadan setidaknya kita bisa menaruh harapan untu bisa mengubah gaya pacaran yang kian memprihatinkan. Bukan sebaliknya, menjadikan Ramadan untuk memperturutkan jebakan setan.

Catatan Ramadan

Kalo kalian rajin ke masjid selama Ramadan, coba perhatiin setiap ceramah menjelang tarawehan. Banyak banget anak sekolahan yang nyatet pengajian sang ustad. Ini bukan kali pertama di Ramadan ini, tapi sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Sejak jaman saya masih duduk di bangku sekolah dasar!


Nah, kali ini saya sedikit mengkritisi tentang catatan Ramadan. Tugas yang diberikan pada anak sekolahan sebagai bagian dari tugas pelajaran Agama Islam ini kadang saya anggap kurang efektif untuk pembelajaran. Banyak kekurangan yang harus diperbaiki untuk menjadikan ini sebagai suatu kegiatan yang mendidik dan agamis.

Sejauh yang saya perhatikan, kegiatan catatan Ramadan kadang bikin rusuh saat salat dan ceramah. Yah, namanya juga anak-anak, ngobrol mereka kadang tidak terkendali. Walaupun sering di-huss oleh bapak-bapak, ntar lama kelamaan suaranya terdengar lagi.

Trus, anak-anak yang nyatat kadang tidak semuanya nyatat sendiri. Ada aja yang nyalin catatan teman. Nah itu artinya apa? Cheating alias nyontek! Padahal tujuannya baik, agar anak-anak menyimak ceramah ustad, tapi kok malah jadi momen untuk belajar nyontek, gak jujur dan curang. Catatan Ramadan seolah tidak ada manfaatnya.

Sebenarnya, banyak cara yang bisa dilakukan oleh pihak sekolah terutama guru agama untuk menjadikan kegiatan ini mencapai sasaran. Salah satunya adalah, guru agama betul-betul memeriksa akurasi catatan siswa didik. Soalnya saya rada pesimis kalo para guru betul-betul memeriksa catatan Ramadan muridnya.

Saya ingat waktu sekolah dulu saya merasa tidak tertarik membuat catatan Ramadan. Karena saya curiga, guru agama pastilah tidak akan membaca tugas kami satu persatu. Bayangin aja, 30 tulisan masing-masing dari ratusan siswa!  Sialnya di penghujung catur wulan, sebelum terima rapor, guru agama meminta semua murid mengumpulkan buku catatan Ramadan. Sanksi bagi yang tidak mengumpulkan adalah nilai agama Islam kosong.

Saya teringat kalau saya masih punya catatan Ramadan tahun sebelumnya. Untuk membuktikan kecurigaan saya dan memenuhi syarat nilai, saya kumpulin saja tugas tahun sebelumnya. Dan ternyata, kecurigaan saya terbukti. Nilai saya tetap keluar dan tidak merah!

Yah, saya maklum kalo tidak semua catatan Ramadan akan terbaca oleh guru. Banyak banget soalnya. Tapi bukan berarti tidak ada jalan lain membuat kegiatan itu mencapai sasaran. Dan guru pun bisa tahu kalau tugas yang dikerjakan setiap murid adalah orisinil karya mereka sendiri.

Saya sarankan setiap siswa diminta mempresentasikan salah satu catatan mereka. Siswa diminta bercerita tentang salah satu ceramah ustad yang ada di buku mereka. Selain itu, guru juga bisa membuat suatu diskusi kelompok tentang ceramah yang dicatat siswa.

Dengan adanya aktifitas di kelas terkait catatan Ramadan, otomatis ada keseriusan di kalangan siswa dalam mencatat ceramah ustad. Plus, selain belajar menulis, siswa juga dilatih punya kecakapan berbicara.

Puasa Gemuk

Sama halnya dengan awal tahun baru, awal Ramadan juga selalu saya sertai dengan sebuah resolusi. Resolusi utama tentulah memupuk pahala dan ibadah sehingga menjadi pribadi Tawakal usai Ramadan. Resolusi selingannya adalah mendapatkan tubuh yang sehat dan ramping lagi.

Well, saya tidak gemuk dan gendut, cuma agak berisi sih. Dan sama seperti orang yang merasa ingin mendapatkan tubuh ideal, saya ingin menjadikan bulan puasa sebagai momen untuk itu.    Kalo bukan di bulan Ramadan, kapan lagi bisa mengendalikan kuantitas makanan yang masuk ke perut.

Tapi perlu diingat, resolusi mendapatkan tubuh ideal bisa berubah menjadi bencana. Salah perhitungan, bukannya menjadi kurus setelah Ramadan justru menjadi lebih gemuk. Dan tidak sedikit orang yang justru beratnya nambah setelah Ramadan. 

Dulu saya pernah mengalami yang namanya gemuk setelah Ramadan. Padahal sejak awal Ramadan saya sudah pasang resolusi pengen nurunin berat badan. Tapi ternyata, apa yang saya harapkan tidak terjadi. Setelah dievaluasi, baru nyadar kalau pola makan selama Ramadan yang saya lakukan salah. Kejadian yang saya alami sesuai betul dengan yang dikatakan para ahli gizi.

Mengutip Dr Samuel Oetoro, SpG.K., ahli gizi klinik FKUI-RSCM, pada detik.com menjelaskan, biasanya orang yang berpuasa akan makan berlebihan ketika sahur karena takut lemas atau makan balas dendam saat buka. Sedangkan di pagi dan siang harinya, aktivitas fisik yang dilakukan berkurang, banyak tidur dan jarang sekali bergerak.

Ditambah lagi, kebanyakan orang melakukan balas dendam pada saat berbuka. Orang biasanya 'murka' dan makan semua makanan yang manis, kolak dengan santan, makanan berlemak dan gorengan, yang semuanya berkalori tinggi.

Menyadari kebiasaan buruk saya, saya pun mulai mengatur pola makan. Saya membatasi porsi makan, gak maruk. Selain itu, saya pun mulai memilih tempat salat tarawih yang rada jauh. Berangkat tarawihnya bukan dengan kendaraan tapi jalan, otomatis ada lemak yang ter dong. Selain itu, bukankah katanya kalo salatnya jauh setiap langkah yang diambil dihitung sebagai pahala. Jadi banyak untungnya lah ya.

Nah bagi kamu yang mau nyoba nurunin berat bada, coba aja deh kek gitu. Bila pola makan dijalankan sesuai pola makan sehat seimbang, mestinya, seusai puasa, berat badan tidak akan bertambah. Mudah-mudahan dengan begitu, tubuh akan lebih sehat karena jadwal makan lebih teratur.

Wednesday, June 26, 2013

Reconnected with Wili

 
 Pekan ini saya terhubung lagi dengan teman lama saya,Wili. Setelah tanya sana sini nomor kontaknya, dilanjutkan satu sambungan telepon merekatkan lagi hubungan pertemanan kami yang sempat sama sekali putus sejak hampir empat tahun terakhir. Meski hanya pembicaraan jarak jauh, momen tersebut mampu memperbaiki kekosongan pertemanan kami.

Ada suatu peristiwa terkini yang membuat saya jadi teringat pada Wili. Pada saat itulah saya baru sadar kalau kami ternyata sudah tidak lagi saling berkomunikasi dalam waktu yang lama. Kesibukan telah menarik diri kami ke dalam dunia masing-masing dan melupakan betapa berharganya nilai suatu persahabatan.

Saya pernah mendapatkan pesan berantai lewat surat elektronik tentang bagaimana suatu hubungan pertemanan bisa putus. Keinginan untuk menghubungi teman tertahan karena perasaan menunggu untuk dihubungi. Lama kelamaan ada perasaan jaim untuk mulai menghubungi lagi. Hingga akhirnya satu sama lain tidak lagi saling menghubungi, hubungan pertemanan sudah tidak ada lagi.

Sama seperti kalian, tidak semua orang bisa kalian jadikan teman. Tentu orang-orang yang dianggap sepaham, sesuai, dan sejalan lah yang dijadikan teman. Dari ratusan bahkan hingga ribuan teman yang kalian punya di Facebook, paling hanya satu atau dua atau sepuluh yang betul-betul menjadi teman seiring sejalan.

Saya sendiri orang yang cukup peduli menjaga kualitas pertemanan. Teman bagi saya bukan hanya untuk sekedar tertawa, tapi juga ada di saat duka. Teman bagi saya adalah orang yang bisa dijadikan sandaran, yang siap tidak hanya bisa mengkritik tapi juga terbuka untuk dikritik. Teman bagi saya adalah orang yang tidak hanya minta diperhatikan tapi juga memperhatikan. Yang pasti teman bagi saya adalah orang yang nyaman untuk dijadikan teman.

Sejauh ini saya beruntung memiliki beberapa teman seperti yang saya definisikan di atas. Bahkan untuk beberapa kasus, jarak yang jauh sekalipun tidak memudarkan hubungan pertemanan kami. Dan memang itulah makna pertemanan itu menurut saya.

Walaupun saya suka berteman, tapi saya cukup hati-hati kepada "teman" yang mengaku teman. Teman yang sejalan tentunya akan dirindukan, tapi teman yang menikam patut dihindarkan.

Berharap Kecewa

Normalnya, dalam hidup setiap manusia pasti mempunya harapan. Entah itu mereka namakan hasrat, impian, cita-cita, atau ekspektasi. Substansinya adalah keinginan yang muncul dari sanubari.

Namun tidak semua orang menaruh harap dengan cara yang sama. Kadar keinginan yang kadang ditempatkan sesuai kemampuan disebut "mengukur bayang-bayang sepanjang badan". Ada pula orang yang tertanam di benaknya pesan guru untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit, sehingga menjadi lebih ambisius. Dan tidak sedikit orang yang berharap hanya sekedar berharap, sehingga impian hanya sebatas kata.

Namun di saat menaruh harap ada yang mungkin kita kadang lupa kalau tidak semua harap akan terjawab. Barangkali tidak semua mimpi akan bisa terpenuhi. Mungkin tidak seluruh cita-cita purna terlaksana. Di saat itulah harap yang terlanjur tertanam di kandung menjadi kecewa yang mendera.

Paham bahwasanya roda hidup selalu berputar, kita tidak selalu di atas. Hidup bukan hitam putih, selalu ada manis dan pahitnya. Artinya, ada masanya kita harus menerima kecewa.

Masalahnya adalah, seberapa toleran kita pada pengharapan dan kekecewaan? Kalaulah hidup berharap membabi buta, alamat akan jatuh pada kecewa. Kalaulah hidup selalu dihantui akan kecewa, alamat nasib akan begitu-begitu saja.

Walau mungkin ada kecewa di balik asa, tentunya tidak harus membuat kita berhenti berharap. Tugas kita sebagai manusia menjalani hidup seperti apa yang kita harapkan. Berharap semestinya disertai berbuat dengan cara terbaik. Untuk hasilnya, kita serahkan pada Tuhan semata.

Ketika hasil tidak sesuai harapan, mungkin itu adalah jalan untuk pendewasaan. Sepanjang kita kita sudah berbuat untuk suatu harapan, maka kita sudah menjadi pemenang. Kalau hasil tidak sesuai harap, mungkin ada jawaban yang lebih baik menantikan.

Muslim dalam Tempurung

Di sela-sela waktu istirahat, setiap kali akan salat di musola kampus, sering saya mendapati sekumpulan mahasiswa atau mahasiswi berdiskusi. Kelompok ini agak berbeda dari mahasiswa lainnya. Yang pria berjenggot yang tumbuh malu-malu. Gaya pakaian lebih sederhana dengan celana agak menggantung. Sementara yang wanita, berjilab besar menutup kepala dan hampir separuh badan.

Saya senang melihat mahasiswa aktif yang suka berdiskusi dan berbagi ilmu.    Saya lebih senang dan kagum lagi melihat generasi muda yang mendalami agama.

Namun kekaguman saya kadang sedikit terusik karena adanya dikotomi di kalangan generasi muda berlatar agama. Pemisahan itu justru terjadi di antara sesama muslim. Tidak sedikit mereka yang tidak berjilbab terkucil oleh kelompok hijabers. Mereka yang berhijab saja juga dianggap belum Islami dan terkucil oleh mereka yang berjilbab besar. Di sisi lain, ada juga kelompok pemakai burka yang merasa ekslusif dibanding penutup aurat lainnya.

Ironis karena Islam sendiri mengajarkan umatnya untuk menjaga kerukunan pada sesama manusia. Bagaimana bisa sesama muslim saja kita sudah terkotak-kotak dan satu kelompok merasa lebih baik daripada kelompok lainnya. Kadang penilaian lebih baik dan lebih benar hanya berdasarkan pakaian saja.

Adakalanya sebagian kita menerjemahkan ajaran Islam secara berbeda. Ada kalanya kita menerjemahkan Islam karena faktor fanatisme terhadap orang yang mengajari. Ada kalanya kita menerjemahkan Islam justru dari sisi kebenaran pribadi semata. Akibatnya, kita jadi lupa substansi ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Rahmat bagi seluruh makhluk di muka bumi.

Kalau Allah saja maha pengasih pada seluruh manusia tanpa pandang bulu agamanya apa, lantas siapa kita yang berhak mengkotak-kotakan saudara sesama muslim. Siapa kita yang berhak mengatakan kalau kita menjalankan Islam lebih baik dari lainnya? Sebagai manusia, utamanya sebagai muslim, kita tentunya tidak mau hidup dalam kotak-kotak yang mengungkung fitrah kita untuk menjaga hablum minannas.

Generasi Perut Bulat

Ketika teknolagi berada dalam jangkauan kita, ketika akses komunikasi ada dalam kantong kita, kita semakin kurang bergerak. Semua gerak kita menjadi minim karena kita begitu tergantung dengan tekbologi yang ada di sekitar kita. Generasi kita terancam menjadi generasi yang gemuk dengan perut yang membulat.

Lihatlah di sekeliling kita. Kita mencari siaran favorit dibantu remote control saat badan terduduk malas di sofa empuk. Waktu kita lebih banyak habis duduk di depan komputer, menyerap berbagai informasi dari dunia maya. Komunikasi kita dengan teman lebih banyak lewat teks BBM, SMS tidak lagi lewat silaturahmi saling bertemu.

Waktu memang telah berubah. Perubahan itu juga membuat perilaku generasi berubah. Generasi sekarang yang suka serba instan tidak mau lagi bersusah-susah ke sekolah jalan kaki, walau jarak sekolah tidak begitu jauh dari rumah. Generasi sekarang sedari kecilnya sudah dicekoki gadget yang membuat candu.

Aktifitas fisik kita lebih banyak pada aktifitas jari. Tubuh kita lebih sering terduduk.  Aliran darah di dalam tubuh pun tidak lancar mengalir ke otak dan seluruh tubuh. Kita jadi semakin malas bergerak dan akibatnya lemak semakin menumpuk di perut.

Kebiasaan yang kurang aktifitas itu makin diperparah dengan kesukaan generasi muda yang suka pula dengan makanan cepat saji. Aktifitas memasak yang juga menguras energi pun terlewati. Tidak heran kalau perut yang tidak elok dipandang itu cukup sering kita lihat di berbagai tempat.

Teknologi tidak bisa dihindari tidak bisa pula diacuhkan. Namun, tetap mengaktifkan tubuh adalah mutlak dan suatu keharusan. Jangan sampai generasi kita adalah generasi yang berperut bulat. Sungguh itu tidak enak dilihat.

Keluarga Cinta

Suatu siang yang panas terik, saat saya tengah menunggu istri saya di gerbang sekolah tempat dia ngajar. Di sisi lain gerbang, ada seorang guru dan staf sekolah sedang berbicara.  Tiba-tiba sebuah motor matic melintas kencang melintasi saya dan pegawai sekolah tadi. Pengendaranya adalah siswi di sekolah yang sama.

Sang guru yang sempat bergerak mundur mendadak melihat dengan tatapan marah. Mereka berdua saling mengomentari sikap kurang ajar siswi tersebut. Selain marah, ada ekspresi kecewa yang tergambar dari raut wajah mereka.

Istri saya yang kebetulan juga datang pada kejadian tersebut sedikit memberi penjelasan pada saya. Siswi tersebut anak manja tapi bermasalah untuk urusan sekolah. Konon dia tidak pernah dimarahi oleh orang tuanya. Semua kemauannya dituruti orang tuanya.

Sama seperti anak-anak bermasalah lainnya, siswi tersebut adalah produk keluarga permisif dan tidak mengenal kasih sayang. Orang tua membiarkan anaknya hidup mengikuti kemauannya sendiri hingga tidak kenal sopan santun dan budi pekerti. Pribadi yang adalah pribadi yang kurang ajar dan tidak beradab.

Anak-anak dari produk keluarga yang tidak memberi kasih sayang dan permisif itu tidak mengenal status sosial; miskin dan kaya. Orang tua kaya memanjakan anaknya dengan materi, seolah kasih sayang bisa dibeli dengan uang. Mereka terlalu sibuk dengan usaha, dan menggantikan cinta hanya dengan harta. Sementara keluarga miskin juga tidak kalah permisifnya. Orang tua yang juga terlalu sibuk karena harus memenuhi kebutuhan keluarga terutama anak, malah membiarkan anak berjalan tanpa arah.

Permisif tidak bisa dilihat dari pembiaran menuruti keinginan anak dari segi materi saja. Permisif bisa berarti membiarkan anak tanpa didikan. Menyerahkan dan mempercayakan anak-anak hanya pada institusi formal seperti sekolah tanpa pantauan. Anak muda atau remaja seperti inilah yang cukup banyak kita temui.

Padahal, kita sangat paham bahwasanya anak adalah cerminan bagaimana orang tua mengajarinya. Orang tua yang tidak bersekolah tinggi sekalipun tapi menyirami anaknya dengan cinta dan kasih sayang akan menghasilkan anak yang berbudi pekerti. Orang tua yang berpendidikan tinggi tapi berperilaku rampok juga akan menjadikan anak seperti perampok.

Menjelang Hari Keluarga pada 29 Mei nanti, saatnya kamu sebagai generasi muda menata kembali keluargamu. Kalian yang tahu keluarga kalian bagaimana. Rangkul semua anggota keluarga untuk hidup dalam cinta dan kasih sayang. Itu yang akan menghasilkan generasi bermutu.

Riwayat

Pada sebuah buku karya Robert Kiyosaki saya pernah membaca kutipan cerita yang sangat menarik dan dalam maknanya. Di sebuah kelas, seorang dosen bertanya pada para mahasiswanya siapa yang tahu tentang dan bagaimana orang tuanya. Sebagai jawaban seluruh kelas mengangkat tangan. Kemudian, dosen tersebut bertanya lagi, siapa yang tahu tentang kakek dan neneknya. Hampir separuh kelas yang mengangkat tangannya. Selanjutnya, dosen itu kembali bertanya, siapa yang tahu tentang kakek dan nenek buyutnya. Kali ini, tidak satupun yang mengangkat tangannya, semua menggeleng menyatakan ketidak tahuan mereka.

Moral dari cerita tersebut adalah betapa hidup manusia sering dilupakan. Banyak di antara kita yang tidak tahu siapa dan bagaimana hidup kakek nenek dan buyut kita. Apalagi leluhur yang lebih tua dari itu. Kita tidak tahu perjalanan hidup para pendahulu kita. Kita malah tidak paham, nilai-nilai kehidupan apa yang telah mereka wariskan.

Banyak di antara kita mungkin tahu bahwa sebagian warisan berasal dari kakek dan nenek atau generasi sebelumnya. Sangat amat disayangkan pengetahuan tersebut hanya sebatas materi. Materi yang pada saatnya nanti juga akan habis seiring waktu.

Namun yang perlu dikhawatirkan adalah, hal yang sama juga akan berlaku pada diri kita oleh anak cucu kita nanti. Generasi berikut setelah kita tidak tahu siapa dan bagaimana kita. Mereka tidak tahu perjuangan dan nilai-nilai hidup yang kita yakini. Kita pernah hidup tapi kemudian dilupakan. 

Beruntung mereka yang menjadi figur publik yang sering diberitakan media. Ada bukti otentik dari sepenggal kisah mereka yang terekam. Sukur-sukur itu berupa catatan baik, namun akan perih kalau rekaman itu adalah kisah buruk, korup, rampok, dan ragam kisah negatif lain.

Saya sendiri merasa bangga penggalan kisah dan prestasi hidup saya pernah diekspos media. Saya juga patut senang perjalanan hidup saya sudah saya tuangkan di novel berjudul "Uda Universe". Saya harus bangga dikaruniakan kemampuan menulis yang berikutnya tertuang di media dan kolom ini.

Masih dalam suasana memperingati Hari Buku, 17 Mei kemarin, saya mengajak pembaca untuk menulis. Setidaknya kita menulis nilai-nilai moral yang kita yakini untuk generasi berikutnya nanti.

Tidak semua orang punya kemampuan menulis. Dalam hal itu, bisa disewa penulis untuk keperluan itu. Sebagai penulis berbakat, saya membuka diri untuk layanan tersebut. Hubungi saja saya lewat twitter. Demi nilai-nilai kebaikan yang akan diwariskan pada generasi nanti.

Kalau saja kita mau menghabiskan uang untuk foto-foto pre-wedding yang hanya untuk dilihat, mengapa kita tidak menyediakan uang untuk sesuatu yang lebih bernilai dan kekal. Foto pre-wedding bisa jadi hanya tinggal kenangan jika nantinya kehidupan rumah tangga tidak berjalan baik - meski tidak ada yang berharap untuk itu.

Monday, May 13, 2013

Anti Kritik

Hal yang barangkali cukup sulit diantisipasi seseorang adalah saat menerima kritikan. Ada yang melawan kritik dengan membalas kritik pada orang yang mengkritik. Ada yang yang bersikap defensif dengan menuding kritikan sebagai fitnah belaka. Ada yang menyerang pengkritik dengan debat kusir. Yang paling susah dilakukan adalah melihat kritik sebagai cermin untuk berintrospeksi diri.

Adakalanya kita merasa jengah dan mungkin marah saat salah kita, korps kita bekerja, lembaga kita bernaung, atau partai tempat kita berharap diungkap. Kita menganggap orang lain berupaya menjatuhkan dengan mencari-cari kesalahan. Kita tidak bisa menerima dan berupaya mencari pembenaran dalam bentuk apapun.

Tapi bukankah sudah fitrahnya manusia tidak luput dari salah dan khilaf. Manusia dituntut untuk selalu berbuat baik, tapi kadang dalam perjalanannya mereka tidak luput dari perilaku salah dan buruk. Entah itu karena disengaja, lupa dan alpa. Adalah benar kalau tidak ada manusia yang sempurna.

Tahu bahwasanya manusia bukan malaikan yang tidak luput salah dan dosa, semestinya dijadikan pijakan untuk selalu melihat kritik sebagai pembelajaran. Dari kritik kita bisa tahu akan kesalahan yang mungkin tidak terencanakan. Dari kejujuran orang lain yang mengkoreksi kealpaan kita bisa sadar bahwasanya kita tidak selalu benar. Dari semua itu kita tahu bahwasanya kita adalah manusia juga.

Melawan kritik sedemikian defensif bukanlah cara yang baik dan bijak. Kita boleh saja merasa benar atau di pihak yang benar. Namun akan lebih baik kita juga menggunakan kaca mata si pengkritik, bukannya kaca mata kuda. Dengan berada di pihak lain dan membuka mata hati, akan memudahkan kita menerima kritikan sebagai saran untuk kebaikan. Tidak menerima kritikan dengan melawan hanya akan menjadikan kita sebagai pribadi atau kelompok yang merasa diri suci.

Monday, May 06, 2013

Ironi Pendidikan Nasional

Awal pekan lalu saya mengajak anak sulung saya melihat-lihat sekolah TK. Rencananya, tahun ini dia akan mulai masuk sekolah. Sebelumnya sih sudah pernah belajar di TK A, tapi karena dia tidak suka sekolah itu, akhirnya dia minta berhenti.

Di sekolah yang kami survey, sepertinya anak saya suka dengan tempat belajar baru itu. Kekhawatiran saya dia trauma belajar di sekolah hilang. Dia tampak antusias, dan tidak sabar menunggu tahun ajaran baru.

Namun kegembiraan saya melihat semangat belajarnya jadi terusik setelah melihat rincian biaya sekolah di sana. Total biaya pendidikan tahunan dan bulanannya dua kali lipat dari biaya sekolah sebelumnya. Menurut saya, biaya segitu sangat fantastis untuk biaya pendidikan anak TK.

Kembali dari sekolah disukai anak saya dan mahal itu membuat saya berfikir. Bukan soal saya batal memasukkannya ke sekolah itu karena biayanya tinggi, tapi lebih dari itu. Saya berfikir bahwa pendidikan yang bagus itu saat ini hanya untuk orang-orang beruang. Bagi yang tidak sanggup, silakan cari sekolah seadanya.

Pertengahan pekan ini kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Dikaitkan dengan pengalaman saya, ada perasaan miris melihat dunia pendidikan kita saat ini. Segudang persoalan masih menghantui industri otak bangsa ini. Ujian Nasional (UN) yang semestinya sebagai evaluasi belajar malah terkesan jadi lahan proyek. Ide Sekolah Bertaraf Internasional (sukur sudah dihapuskan), justru jadi lahan pengkotak-kotakan siswa berdasarkan latar belakang ekonomi. Sekolah swasta dengan promosi kualitas jadi tempat bagi orang kaya, sementara yang miskin cukup ke sekolah negeri yang kadang mutunya biasa-biasa saja.

Mendapatkan pendidikan dan jadi orang berpendidikan sebenarnya bukan soal kesenjangan tempat belajar saja. Sebagai dosen, saya lihat perilaku dan kemauan dalam diri pelajar atau mahasiswa juga berpengaruh. Mereka yang tidak diterima di PTN dan tidak sanggup kuliah di PTS bermutu umumnya berasal dari keluarga tidak mampu atau tidak pintar secara akademis. Mereka ini akan tercampak dan terpaksa masuk PTS yang tidak bermutu.

Parahnya, yang kuliah atau bersekolah di tempat rendah mutu tidak tahu diri pula. Belajar ogah-ogahan dan asal-asalan. Gaya selangit tapi prestasi belajar sedikit. Hasilnya setamat kuliah, perilaku, pola pikir dan kemampuan tidak jauh beda dengan anak SMA.

Sama seperti kondisi bangsa Indonesia dengan jurang sosial yang dalam, dunia pendidikan pun begitu. Pendidikan bagus dan bermutu hanya untuk mereka yang kaya saja. Akibatnya, yang kaya makin maju sementara yang miskin makin terpuruk saja.

Tidak Sekedar 3D

Don't judge a book from it's cover. Jangan nilai buku dari sampulnya. Demikian kita selalu diingatkan dengan perumpamaan untuk tidak gampang menjatuhkan penilaian terhadap seseorang. Butuh lebih dari sekedar tahu ataupun kenal untuk menjatuhkan penilaian terhadap seseorang.

Lagian, kita sebenarnya juga tidak berhak sih menilai orang. Namun kalau memang mau menilai, kita tidak bisa melakukannya sebatas di permukaan. Kita harus benar-benar kenal, tahu sifat dan kepribadian orang yang dinilai.

Ibarat buku, kita harus membaca dan mengupas tuntas isinya. Ibarat melihat sebuah koin, dengan hanya sekali lihat kita hanya akan melihat satu sisi. Untuk tahu bagaimana kondisi koin itu, kita harus melihat sisi lain yang luput dari pandangan pertama.

Sudah cukup umum kalau manusia menilai orang lain berdasarkan standar atau sudut pandangnya saja. Artinya, manusia sudah menentukan patokan pada titik tertentu dalam menilai  orang lain. Jika orang tersebut dianggap memenuhi standar pribadi, maka citra positif akan gampang melekat. Jika standarnya ada di bawah atau tinggi, maka akan ada perlakuan-perlakuan khusus.

Standar dan penilain kulit-kulit saja itu,  akan mempengaruhi kerukunan hubungan sosial. Orang lain bisa dianggap bersalah hanya karena berbeda, atau sebaliknya disanjung dan dipuja karena berada di atas standar yg menilai.

Ada banyak cara untuk menilai sehingga tidak menyebabkan orang lain tersudutkan dan disalahkan. Ibarat nonton, menggunakan kacamata 3D belumlah cukup. Kita butuh kacamata multi dimensi, sehingga tidak gampang menjatuhkan penilaian.

Kalaua penilaian hanya dari satu sisi, maka kita akan kehilangan objektivitas. Daripada sotoy hingga jatuh ke suudzon, mending kenali dulu orang tersebut. Atau gampangnya saja, mendingan gak usah menilai orang lain deh!

Monday, April 15, 2013

Ironi Kartini

Hari ini katanya diperingati sebagai hari kebangkitan perempuan Indonesia. Hari ini katanya adalah hari ketika hak-hak kaum hawa Indonesia harus kembali disuarakan. Hari ini sepertinya hari berkebaya wanita Indonesia. Karena hari ini rupanya diperingati sebagai Hari Kartini.

Lantas kenapa dengan Hari Kartini? Hanya karena gadis muda itu pernah berkirim surat tentang hasratnya memajukan perempuan pribumi kepada temannya di Belanda lantas hingga sekarang kita harus mengenang Kartini? Atau karena kita latah saja butuh sosok untuk dijadikan simbol emansipasi yang juga melanda dunia barat sana?

Memperingati Hari Kartini bukan tanpa alasan. Adalah fakta hingga saat ini masih terdapat ketimpangan antara pria dan wanita dalam kehidupan sosial. Bukannya mengada-ada kalau dominasi kaum lelaki telah melemahkan dan merampas hak-hak kaum perempuan. Dan bukan ilusi pula kalau masih sering terjadi pelecehan dan tindak kekerasan terhadap perempuan karena minimnya pengetahuan hak hukum para perempuan.

Lantas kenapa dengan Hari Kartini hari ini? Hari ini sepertinya para Kartini muda juga tidak kalah aksi. Lepas dari sekian fakta ironis tersebut, impian Kartini dulu untuk memajukan perempuan pribumi sudah banyak terwujud sekarang. Dalam dunia kerja, banyak perempuan yang menduduki posisi yang semula didominasi pria. Dalam kebebasan berfikir, suara perempuan ikut didengar dan dihargai. 

Masalahnya, ironi Kartini justru juga terjadi. Banyak perempuan yang salah kaprah memaknai semangat Hari Kartini. Dengan alasan emansipasi tidak jarang wanita kini menggadaikan harga diri. Tidak jarang kita lihat dan dengar, hanya karena alasan ekonomi perempuan kini mau menjual diri. Tidak sedikit pula wanita kini jadi berani merendahkan diri demi materi meski usia mereka relatif dini.

Hari Kartini seyogyanya dimaknai dengan nilai nilai luhur yang didasari kemuliaan religi. Seberapapun mau bebasnya manusia, toh harus ada aturan-aturan yang harus ditaati. Ketika kebebasan sudah melanggar norma dan agama, maka hanya akan menjatuhkan derajat manusia. Jadi, bagi para Kartini sudah saatnya introspeksi sudah benarkah kebebasan yang dilalui selama ini.

Saturday, April 13, 2013

Jujur UN

Saya membaca berita menarik soal Ujian Nasional (UN) yang mulai diselenggarakan besok. Lewat VivaNews, gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, mengaku tidak memberikan target kelulusan kepada pada siswa kelas XII SMK/SMA dan Madrasah Aliyah yang akan mengikuti Ujian Nasional.

Menurut Jokowi, yang paling penting Ujian Nasional itu dilakukan dengan jujur tanpa ada usaha-usaha kebohongan seperti menyontek atau membeli kunci jawaban. "Mereka harus belajar tapi jangan diajak untuk melakukan sesuatu yang tidak jujur. Nilainya berapa buat saya tidak ada masalah. Tapi itu hasil dari sebuah proses yang jujur."

Statemen ini menurut saya sangat penting disampaikan pada para siswa dan guru. Sudah cukup sering kita mendengar entah itu dari berita atau mulut ke mulut kalau sering terjadi kecurangan saat ujian berlangsung. Ada ketidak-jujuran dalam mendapatkan nilai kelulusan UN.

Modusnya juga banyak macam. Entah itu lewat SMS, berbagai "jimat" dalam lipatan kertas, sampai coretan di bagian tubuh. Pelakunya gak cuma siswa, ada juga oknum guru yang ikut membocorkan. Tujuannya tak lain dan tak bukan beban target lulus UN.

Kita tidak perlu diskusikan dulu soal kebijakan UN dan beban yang harus ditanggung siswa. Yang harus ditegaskan di sini adalah bagaimana siswa harus berlaku jujur dalam melaksanakan UN. Kepada siswa harus ditanamkan pentuingnya nilai murni yang tidak terdistorsi kecurangan dan kebohongan.

Bangsa ini sudah mengalami degradasi moral. Kalau kepada siswa sudah ditekankan untuk lulus dan nilai tinggi meski diperoleh dengan kecurangan, alangkah bobroknya mental mereka nanti. Justru sebaliknya, kepada mereka harus ditanamkan kejujuran biar tidak seperti banyak generasi pendahulunya yang sudah sakit dan koruptif.