Translate

Showing posts with label Uda Universe. Show all posts
Showing posts with label Uda Universe. Show all posts

Friday, January 18, 2013

Uda Universe (Lagi)


Akhirnya ide cerita yang sudah lama terbenam di benak dan garis cerita yang sempat terketik dan tersimpan sejak dua tahun terakhir di laptop itu berbuah sudah. Novel berjudul Uda Universe itu akhirnya terbit juga.
Sudah menjadi cita-cita terpendam dalam hidup saya untuk bisa menghasilkan buku. Selama ini saya selalu berharap suatu ketika orang akan membaca karya-karya saya. Meskipun selama ini sudah tersalurkan lewat karya-karya jurnalistik, namun itu masih belum.
Uda Universe hanyalah kisah tipikal orang yang ingin mewujudkan impiannya. Kisah tentang tokoh utama yang berambisi untuk bisa ke luar negeri. Banyak rintangan dan cobaan yang harus dihadapi.
Bagi yang tahu saya, mungkin beranggapan itu adalah kisah pribadi. Namun cerita fiksi itu hanyalah hasil rekayasa semata. Karangan dari hasil imajinasi, meski tidak dipungkiri ada sisi-sisi pengalaman pribadi, teman, kenalan yang menjadi inspirasi terwujudnya cerita itu.
Terlepas dari itu semua, saya hanya ingin menyampaikan pada pembaca bahwa kekuatan mimpi itu benar adanya. Banyak orang yang berpendapat bahwa keberuntungan dan kesempatan adalah faktor dari pencapaian mimpi. Namun lewat "Uda Universe" saya ingin menyiratkan bahwa keberuntungan dan kesempatan itu bukan satu-satunya faktor dari kesuksesan meraih impian.
Tidak hanya lewat cerita novel saya buktikan itu. Bahkan peluncuran buku pertama saya itu sendiri adalah pembuktian dari pernyataan saya. Saya memproduksi sendiri novel tersebut lewat penerbit indie. Ini saya lakukan dengan banyak pertimbangan, salah satunya menciptakan kesempatan itu sendiri buat saya.
Memberikan ke penerbit besar dengan jaringan luas di toko-toko seluruh Indonesia mungkin akan butuh waktu lama untuk diterbitkan. Belum lagi kemungkinan ditolak dengan berbagai alasan. Sementara tulisan ini sudah terpendam lebih lama lagi di perangkat komputer saya.
Berhubung ini adalah produksi sendiri, dan dijual online, maka bagi yang berminat membaca karya perdana saya bisa menghubungi saya lewat yuhendra28@yahoo.com atau bisa mengakses situs leutikaprio.com. Selain itu Anda juga bisa menghubungi nomor penerbit: 082138388988.
Selamat menikmati semoga jadi inspirasi bagi Anda. Salam.

Thursday, September 20, 2012

Uda Universe

Sebenarnya judul di atas gak ada kaitannya sama sekali dengan gelar di kontes pemilihan ini dan itu. Judul di atas adalah nama yang saya berikan untuk koleksi cerita yang saya postingkan di blog saya yang beralamat di http://hendra-world.blogspot.com/ baru-baru ini. Sudah cukup lama saya buat blog itu, namun cukup lama pula saya tinggalkan. Sekarang, saya pikir sudah saatnya memulai lagi mengisi blog itu dengan tulisan-tulisan bermakna, yang sekiranya bisa diambil hikmahnya bagi orang yang membaca.

Uda Universe adalah kisah fiktif. Judulnya yang memadukan unsur lokal dan global (Uda dan Universe) adalah maksud terselubung dari rangkaian tulisan itu. Kisah tentang pemuda Minang yang berusaha meraih impian ke luar negeri. Sebuah tema cerita yang mungkin sudah dianggap biasa karena sangat populer dan banyak menjadi tema cerita para penulis lainnya.

Namun seperti yang saya sebutkan dalam blog tersebut, hidup itu adalah sebuah petualangan, dan setiap petualangan memiliki kisahnya sendiri. Artinya, meski tema cerita tentang meraih impian ke luar negeri sudah sering menjadi topik cerita di berbagai novel, namun selalu ada yang berbeda. Sama halnya dengan impian setiap orang dan jalan yang dia tempuh untuk meraihnya.
Lantas mengapa cerita seperti itu digemari? Mengapa pula kisah-kisah orang yang hidupnya pernah pahit namun berujung manis selalu mendapat tempat di hati masyarakat? Jawabannya bisa jadi karena setiap orang punya cita-cita, impian dan harapan.

Kenyataanya tidak semua orang bisa berhasil meraih impiannya dikarenakan banyak sebab; ketidak beruntungan, gagal lalu putus asa untuk melanjutkan, atau tidak mau mencoba sama sekali untuk mewujudkannya karena tidak ada motivasi.Bahkan, tidak sedikit orang yang melupakan begitu saja impian masa kecilnya karena tergerus keadaan dan pasrah.

Padahal, cita-cita atau tujuan hidup ini hanya bisa diraih jika ada motivasi yang kuat dalam diri. Dari berbagai situs motivasi disebutkan bahwa tanpa motivasi apa pun, sulit sekali menggapai apa yang dicita-citakan. Tapi tak dapat dipungkiri, memang cukup sulit membangun motivasi di dalam diri sendiri. Bahkan, mungkin banyak yang tidak tahu pasti bagaimana cara membangun motivasi di dalam diri sendiri. Padahal, sesungguhnya banyak hal yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan motivasi tersebut.

Makanya, banyak motivator yang dibayar mahal oleh perusahaan-perusahaan untuk membangkitan motivasi para karyawannya. Tidak sedikit pula televisi punya program khusus untuk mengayakan sisi spiritual penontonnya dengan menampilkan motivator-motivator ternama. Bahkan penyelenggara outbound pun punya substansi kegiatan memperkuat motivasi pesertanya. Dengan adanya motivasi, orang akan berusaha sungguh-sungguh meraih impiannya.

Dan saya, lewat tulisan juga ingin berbagi kisah yang sekiranya bisa menumbuhkan motivasi siapapun yang membacanya. Kisah dimana seorang pemuda lokal yang berusaha keras meraih impiannya untuk bisa ikut serta di kancah global. Selamat membangkitkan motivasi!

Wednesday, May 09, 2012

Yuhendra "Uda Universe"

On publication  seperti berikut:


Yuhendra , “Uda Universe”
Baru di penghujung tahun lalu Yuhendra membuat berita karena menjadi salah satu partisipan pada Mosaic International Summit 2011 yang diadakan di Doha, Qatar. Sekarang, Uda Kota Padang 2004 itu kembali membuat kejutan dengan prestasi lainnya yakni meluncurkan sebuah novel yang diberi judul “Uda Universe”.

“Iya nih, novel perdana saya akhirnya selesai juga dan sudah diterbitkan,” kata pemilik panggilan Hendra  itu  belum lama ini.

Menurutnya, “Uda Universe” sebenarnya bukan buku pertama yang sudah diterbitkan. Thesis S2-nya di Rotterdam, Belanda dulu juga dilirik oleh penerbit asing dan telah diterbitkan oleh penerbit ternama di Jerman. Sekarang kedua karyanya itu bisa didapatkan dengan cara membeli online alias lewat internet. Lewat internet?

“Ya, untuk thesis bisa diakses di Amazon.com, salah satu situs penjualan buku terbesar di dunia maya, sedangkan untuk novel, bisa diakses di www.leutikaprio.com atau pesan visa sms ke nomor 082138388988,” jelasnya.

Lebih lanjut Hendra mengatakan kalau thesisnya yang risetnya dilakukan di Rotterdam itu diminta untuk diterbitkan. Sedangkan untuk novel, sengaja dijual secara online karena diterbitkan atas biaya sendiri.  Cerita yang katanya sudah tersimpan sekitar tiga tahun di laptop-nya itu harus segera diterbitkan karena kalau lama dipendam akan menghambat ide barunya untuk menulis kisah baru lainnya.

“Menunggu jawaban dari penerbit yang bisa hingga enam bulan atau setahun akan mematahkan semangat saya untuk menulis. Ya udah mending terbitin aja dulu yang ini. Yang berikutnya, kalo menunggu pun gak apalah. Intinya adalah saya tidak harus menunggu kesempatan buku saya mesti terbit secara massal, namun sayalah yang harus membuka kesempatan itu buat diri saya sendiri,” alasan pria yang sekarang  menjadi dosen dan motivator pada seminar dan kegiatan pengembangan diri.

Dari berbagai prestasi lokal hingga global, Hendra seolah membuktikan ucapannya soal menciptakan kesempatan itu. Dan lewat novelnya, Uda Persahabatan Sumbar 2004 itu seolah menegaskan bahwa eksistensi dan prestasi-nya tidak berhenti di dunia Uda dan Uni saja. (*)

Sunday, April 15, 2012

Uda Universe, dari Blog ke Buku






Penasaran dengan kelanjutan cerita Uda Universe? Silakan pesan dan beli bukunya. Caranya, klik gambar di bawah atau website Leutika Prio untuk teknis pemesanan buku. Atau hubungi langsung Yuhendra di email: yuhendra28@yahoo.com.

Tuntaskan rasa penasaran Anda di buku ini!

Monday, January 16, 2012

Tuan Takur dan Terornya


Rumah petak tempat tinggal kami dimiliki Pak Rajis. Aku tidak pernah tahu entah siapa nama lengkapnya. Namun begitulah ia akrab dipanggil oleh orang-orang di Kampung Paduan. Pada dasarnya, Pak Rajis seorang yang kaya karena harta orang tuanya. Dari amak dan bapaknya dia memperoleh beberapa tanah dan rumah petak untuk disewakan di Kampung Paduan.
Melihat fisik dan penampilannya ibarat menyaksikan tokoh antagonis seorang rentenir yang ada di sinetron-sinetron atau tuan takur tak punya hati di film-film India. Nyatanya, Tuan Takur adalah julukan yang diberikan orang-orang di belakangnya. Suatu kebetulan ada kemiripan nama antara Rajis dan Raju, yang sering disebut di film India.
Umur Pak Rajis hampir setengah abad. Tubuhnya besar, membulat di bagian perut. Kulitnya kasar berwarna hitam legam. Mukanya banyak ditumbuhi keratosis seroboik, bintik-bintik kehitaman, terutama di bagian leher, pipi dan area mata. Hidungnya bulat dengan pori-pori besar dan bopeng bekas liang jerawat. Matanya merah membelalak seperti orang yang baru saja mengejan teramat keras. Hampir seluruh jari tangannya yang gemuk-gemuk pendek dipasangi ikat cincin dari besi putih berbatu akik besar-besar. Di bawah dagunya yang seperti bertembolok, melilit rantai emas besar. Tidak puas dengan aksesoris di sekujur tubuhnya itu, ia melapisi pula dua gigi seri bagian atasnya dengan emas.
Kehadiran Pak Rajis selalu menebar teror psikologis di sekelilingnya. Konon ia adalah mantan preman yang sering keluar masuk kandang situmbin[1]. Kasusnya banyak, mulai dari berjudi, menipu, melakukan penganiayaan dan berbagai perbuatan keji lainnya. Kebiasaan lain tuan takur satu ini adalah senang main perempuan. Istri dan jandanya banyak, konon karena hasil jimat-jimat dan jampi-jampi dari kebiasaanya yang pedukun. Konon kabarnya, selain di Kampung Paduan, ia juga punya tanah yang diperoleh  dari wanita-wanita kaya yang dikawininya. Sungguh kalau melihat jasadnya, tidak ada yang akan menyangsikan kisah konon itu.
Orang tua Pak Rajis tinggal di Kampung Paduan, di rumah kedai yang bersebelahan dengan pangkal Rumah Petak. Mereka adalah pemilik kontrakan itu meski uang sewa penghuninya selalu jatuh ke tangan Pak Rajis.
Sama seperti kami, bagi pasangan jompo tersebut kedatangan Pak Rajis tidak pernah diharapkan. Sifat jahanamnya membuat kedua orang tua tersebut  tidak merasa nyaman dan takut akan kehadiran darah daging mereka sendiri.
Pernah pada suatu siang yang tenang, saat orang-orang malas ke luar karena panas siang, warga dikejutkan lengkingan pilu laki-laki tua. Raungan itu berasal dari kedai milik Bapak si Tuan Takur. Tidak berapa lama berselang, Pak Rajis bergegas keluar dari rumah kedai itu. Wajahnya yang hitam kian kelam pekat. Matanya liar dan merah nyalang.
“Anak durhaka! Belum puas juga kau menyiksa kami. Keluar dari rumah den..[2]!” teriak Ibu Pak Rajis dari dalam mengiringi kepergiannya.
Baru setelah Pak Rajis benar-benar pergi warga berani melihat ke dalam rumah. Di dalam, Ibu Pak Rajis terduduk meratapi suaminya yang terkulai lemah di pinggir tangga kayu, penghubung kedai yang di lantai bawah dengan bilik-bilik di lantai atas. Tubuh lelaki kurus kecil itu gemetar. Ia berkata-kata gagap tidak jelas. Mukanya pucat, dari pelipisnya mengalir darah segar.
“Apa dosa kami sampai punya anak durhaka seperti itu?” ratap Ibu tua itu sambil menghapus luka suaminya dengan ujung selendangnya. Mukanya basah karena air mata, sementara suaminya masih tergagap-gagap menahan sakit. Dari penuturan singkat ibu tua itu diketahui kalau suami dan anaknya baru saja bersitegang karena Pak Rajis memaksa Bapaknya menjual tanah lagi untuk menutup hutangnya akibat kalah berjudi. Namun bapak tua itu bersikukuh kalau tanah itu tidak akan dijual terlebih untuk penutup hutang anaknya itu. Sudah banyak harta mereka yang ia peloroti. Penolakan itu kontan membuat si Malin Kundang kalap. Setelah sempat beradu fisik, bapak yang sudah uzur itu kalah dan dia terdorong jatuh dari atas tangga hingga terjeremban ke lantai bawah.
*
Setiap Pak Rajis datang ke rumah kami, aku selalu bersembunyi di balik pintu. Sementara Abang dan Uni memilih lari ke dapur atau ke luar rumah. Dari raut mukanya yang melihat ketakutan kami, Aku tahu kalau Pak Rajis menikmati horor yang ia timbulkan. Kadang ia sengaja menyeringai atau membelalakkan mata ke sela pintu tempat aku bersembunyi. Sepertinya dia tahu aku mengintip dari balik celah pintu. Dan nyaliku langsung ciut.
Dari segi perhitungan, praktiknya kami bertemu dengan Pak Rajis hanya sekali setahun, yaitu setiap kali uang sewa dibayarkan. Tapi pemilik kontrakan yang satu ini memang durjana yang menikmati tekanan pada orang-orang lemah. Ia acap muncul ke kontrakan kami sambil membahas soal tetek bengek rumah yang tidak penting. Sementara kepada keluarga tetangga yang berpangkat dan saudagar daging, Rajis menunjukkan sikap sedikit segan. Ia gampang melunak. Mana mau ia melawan orang berpangkat kalau tantangannya masuk bui lagi. Atau mana mungkin ia berani bersitegang dengan pedagang daging yang lebih muda dengan otot lebih besar dan padat. Terlebih lagi para pedagang daging juga punya persatuan nan solid sesama pedagang terdiri dari orang-orang yang tidak kalah tegap dan kekar.
Maka Abah yang bertubuh kecil dan tidak banyak bicara serta Ibu yang juga pendiamlah korban empuk buaya tua itu. Kepada Abah dan Ibu, Pak Rajis sering meminta uang kontrakan jauh sebelum akhir kontrak jatuh tempo. Kadang ia mengeluhkan kalau rumahnya rusak sehingga butuh uang perbaikan, walau perbaikan yang dia katakan tidak pernah dikerjakan. Selalu ada saja alasannya untuk memeras dan meminta uang tambahan dari kami.
Pernah suatu waktu, Ibu tinggal di rumah dan Abah yang pergi ke Pasar. Meski tidak terlalu sering, pergantian ini dilakukan untuk mengimbangi kedekatan dan perhatian pada kami.
Saat itu Ibu yang telah selesai dengan segala urusan rumah dan keperluan kami, sedang mandi. Ibu tiba-tiba mendengar pintu kamar mandi diketok. Mengira itu adalah ketokan salah seorang dari kami, Ibu membuka sedikit pintu dan mengulurkan muka. Wajah Ibu mendadak pasi melihat di depan kamar mandi sudah berdiri Pak Rajis sambil menyeringai ke arahnya. Mata merahnya melirik liar. Ibu langsung membanting dan mengunci pintu kamar mandi.
Ada keperluan apa Bapak masuk rumah tanpa minta ijin dulu?” Tanya ibu terbata, suaranya serasa tercekat di tenggorokan. Pikiran ibu langsung pada reputasi kejahatan kelamin Pak Rajis terhadap perempuan. Tubuh kecilnya yang hanya berbalut handuk bergetar.
“Hei.. apa urusan kau menyuruhku minta ijin dulu. Ini rumah den. Kau hanya penyewa di sini!” salak Pak Rajis dengan suara meninggi. Kata “kau” untuk sebutan orang kedua bagi perempuan Minang adalah ungkapan yang kasar.
“Tapi suami saya sedang tidak ada di rumah dan tidak pantas Bapak masuk begitu saja ke dalam,” balas Ibu yang tidak berhenti menggigil ketakutan.”Sebaiknya Bapak keluar sekarang atau saya akan berteriak!”
Kalera[3] mah!! Den  pula yang kau ajari!” teriaknya menyerupai gonggongan sambil memukul keras pintu kamar mandi.
Dentuman hebat dari balik pintu membuat jantung Ibu seakan lepas. Ibu tergagau sambil membaca istighfar. Dengan gigi yang ikut bergemeletuk ibu berdoa agar laki-laki itu segera pergi. Punggungnya ia sandarkan keras ke pintu yang sudah langsung ia pasak setelah melihat Pak Rajis.
Setelah dentuman keras itu, Ibu tidak mendengar ada suara apa-apa lagi. Hampir satu jam Ibu berada dalam kamar mandi yang kecil itu, memastikan kalau Pak Rajis sudah pergi dari rumah. Ibu baru keluar setelah Abang masuk rumah mencari-cari Ibu minta dibuatkan susu. Begitu pintu terbuka, Ibu langsung memeluk Abang sambil sesegukan. Abang yang tidak tahu menahu ikut menangis dalam pelukan erat Ibu.





Tuntaskan kelanjutannya di Bab berikutnya....


[1] Bui
[2] Saya
[3] Carut dalam bahasa Minang

Wednesday, January 04, 2012

Romi dan Juli


Tidak seperti biasanya, Abah masih belum sudah dengan cucian dan pekerjaan rumah lainnya. Banyak sekali yang harus diselesaikan di rumah, sebab tadi malam Abah dan Ibu membuat keripik bayam untuk dijual di kedai-kedai makanan. Baru setelah masuk waktu Duha Abah keluar dengan kain yang akan dijemur. Seperti biasa Abah hanya berkain sarung dan kaos singlet, menampakkan kulit putih dan ototnya yang samar. Walau hanya dibalut pakaian rumahan seperti itu, Abah tetap tampak gagah bahkan sedikit menggoda. Aku sempat berfikir, jangan-jangan inilah yang mengusik hati para bapak di Bagian Muka itu. Penampilan Abah barangkali juga telah menggetarkan perasaan istri-istri mereka yang berujung sikap sinis pada Ibuku.
Dalam pada itu, Romi salah seorang anak tetangga paling kaya datang. Kalau tidak untuk bermain, biasanya dia datang dengan sesuatu yang baru untuk dipamerkan padaku. Dan benar saja anak manja itu datang dengan tujuan kedua. Sambil tersenyum-senyum bangga dia menghampiriku yang sedang duduk meainkan gelang karet di depan pintu. Kedua tangannya di belakang punggung, berusaha menyembunyikan sesuatu.
“Hei, Aku ada sebuah mainan yang pasti kamu suka,” sapanya bernada melagak sambil berusaha menjaga sikap misterius. Air liur kering di sudut bibirnya pecah karena senyum lebarnya itu. Anak keras kepala ini pasti berhasil menaklukkan lagi perintah mamanya untuk mandi dan gosok gigi.
“Apa itu,” tanyaku dengan rasa penasaran berusaha melongok ke punggungnya.
“Eit… nanti dulu!” ucapnya menghindar. Nafas bantalnya langsung menyerang hebat liang hidungku, membuatku reflek bergerak mundur.
“Ya sudahlah. Kalau kamu tidak mau menunjukkan, untuk apa kasih tahu Aku?” balasku sambil kembali duduk.
“Sabar Chen...” katanya seraya mendekat dan duduk di sebelahku.
Panggilan Chen sudah melekat sejak usiaku dua tahun. Entah siapa yang mulai memanggilku begitu. Kemungkinan nama itu bermula dari keluarga dekat karena bentukku yang seperti anak orang Cina. Kulitku mengikuti kulit Abah, sedangkan rambutku lurus dan hitam lebat turunan dari Ibu. Nama itu makin sering disebutkan padaku setelah aku melabelkan diri sebagai Chen Lung, tokoh silat diperankan Jacky Chan dalam sebuah film yang pernah populer awal delapan puluhan, di setiap permainan tarung silat dengan Anak-anak Belakang. Belakangan, bukannya terkenal sebagai Chen Lung, anak-anak justru mengolok panggilanku menjadi Kuchen.
“Ini dia Chen,” kata Romi sambil menunjukkan sebuah kotak kayu seukuran satu setengah kali ukuran telapak tangannya. Berupaya terus menahan rasa penasaranku, Romi tidak segera membuka kotak kayu berwarna coklat mengkilat itu.
“Ada apa di dalamnya?” tanyaku.
“Sesuatu yang belum pernah kamu lihat dan pasti akan kamu suka,” jawabnya sambil mendekatkan wajahnya dengan mata membesar ke arahku. Hidungku kembali terusik oleh bau basi dari mulutnya, namun berusaha kutahan.
“Ayolah…!” pintaku tidak sabar seraya menghembuskan nafas sebanyak mungkin, mengeluarkan kebusukan yang sudah ditebarnya padaku.
Romi kemudian membuka pelan kotak yang ada di tangannya. Dari dalam kotak tampak sebuah bola kaca yang sangat jernih dan bersih. Pelan-pelan dia tarik benda yang ternyata sebuah bola kristal itu. Bola itu berisi air, di dalamnya juga ada miniatur rumah sangat unik yang belum pernah aku lihat di mana pun. Ada pasir-pasir mengkilat mengelilingi rumah kecil itu. Sangat indah.
“Tunggu dulu. Kamu belum melihat semuanya,” kata Romi lagi berusaha memancing kembali rasa penasaranku. Ia kemudian menggoyang pelan bola kristal yang masih dipegangnya dengan erat itu. Selanjutnya ia perlihatkan kembali padaku. Aku kian takjub melihat rumah itu kini sudah diselimuti kabut. Perlahan butir-butir kabut tadi jatuh menghujani rumah itu untuk selanjutnya kembali menjadi pasir di sekelilingnya. Pemandangan dalam bola kristal itu seolah nyata bagiku. Makin sangat indah.
Romi menolak ketika aku ingin memegang bola kristal tersebut. Dia takut bola itu jatuh dan pecah di tanganku. Meski sedikit kecewa, penolakan itu tidak mengurangi rasa senangku. Lagi pula kalau betul-betul pecah, aku tidak akan sanggup mengganti bola indah itu. Jangan sampai tragedi yang menimpa Uni dulu juga aku alami. Bagiku, Romi sudah cukup baik menunjukkan mainan barunya.
Daripada Anak-anak Muka lainnya, Romi lebih dekat denganku. Ia sering membagi makanan enak dan meminjamkan mainan bagusnya padaku. Aku sendiri tidak tahu mengapa anak yang tidak suka dengan anak-anak belakang itu malah akrab denganku. Padahal, tingkat perekonomian kami jauh berbeda. Orang tuanya pedagang aneka hiasan rumah, salah satu keluarga kaya di Bagian Muka, beda sekali dengan keluargaku. Meski sebaya, fisik Romi lebih besar dan tambun mengalahkan tubuhku. Tapi begitulah, Romi sering mengenalkanku pada hal-hal baru, seperti saat itu.
Di saat Romi ingin kembali menggoyang-goyang bola kristalnya, datanglah Panjul. Melihat dua tentengan besar-besar di kedua tangannya, sepertinya dia baru pulang belanja dari Pasar Bawah. Karena Panjul dan Aku juga berteman akrab, dia menghentikan langkahnya dan meletakkan bawaannya yang berat di dekat kami. Sambil tersenyum menyapa, dia mengibas-ngibaskan tangannya melepas rasa pegal.
Kehadiran Panjul membuat Romi segera berhenti menggoyang bola kristalnya. Ia buru-buru menyimpan kembali bola kaca itu ke dalam kotak kayu dengan wajah masam. “Sebentar lagi sajalah Chen. Nanti aku perlihatkan lagi pada kamu.” ucapnya ketus.
Menyadari kehadirannya tidak diharapkan, Panjul jadi salah tingkah. Tapi mukanya merah mengeras. Tangannya mengepal keras. “Dari pasar ya Jul?” tanyaku berbasa-basi dengan nada sewajarnya berusaha mencairkan suasana. “Iya,” jawabnya singkat berusaha tersenyum padaku. Kemudian ia mengambil kembali belanjaanya dan berlalu meninggalkan kami menuju Bagian Belakang tanpa berkata apa. Perasaanku menjadi terganggu dan tidak enak.
Panjul adalah sahabat baikku di Bagian Belakang. Dia yang sering mengajakku ikut terlibat dalam berbagai petualangan liar. Dia juga yang acap kali menjagaku dari bahaya akibat ulah usil kami. Pernah suatu kali aku bersama anak-anak belakang dikejar anjing liar. Aku tertinggal di belakang sementara Panjul yang larinya kencang sudah jauh di depan meninggalkanku dan yang lainnya. Menyadari aku tidak bersamanya, dia berbalik arah sambil mengambil batu sebesar kepalan tangan orang dewasa. Dengan nafas tersengal hebat, dia menyuruhku terus berlari dan nekad menghadang anjing yang sudah makin mendekati Saat binatang yang diamuk marah itu akan menyerangnya, batu yang ada di tangannya dilempar  keras tepat mengenai paha depannya. Anjing itu mengaing keras menahan sakit dan akhirnya berbalik arah meninggalkan kami.
Panjul adalah anak yang enak dibawa berteman. Ia keras tapi sopan. Umurnya setahun di atasku namun tubuhnya agak lebih kecil daripada tubuhku. Ia berkulit sawo matang. Wajahnya tampan, berkarakter dan menunjukkan sosok yang kuat, sesuai dengan nama aslinya; Julius Caesar.
Nama besar itu diberikan kepadanya bukan sekedar gagah-gagahan. Ia lahir di bulan Juli lewat operasi caesar yang biayanya telah menyedot tabungan dan menyisakan hutang bagi Bapak dan Ibunya. Pihak keluarganya yang bersekolahlah yang memberikan nama itu meski Bapak dan Ibu Panjul sendiri tidak tahu siapa Julius Caesar. Adapun Juli sendiri yang kemudian entah bagaimana dipanggil Panjul merasa bersalah akan proses kelahirannya sehingga rela ikut membanting tulang membantu kedua orang tuanya. Terlepas dari ironi hidupnya, aku sempat berfikir, dengan tampang dan nama besarnya Panjul akan menjadi orang yang besar pula kelak di kemudian hari.
Aku bangga bersahabat dengan Panjul, sebangga bersahabat dengan Romi. Namun berada di antara keduanya ibarat berada di tengah bara. Aku merasa suatu saat nanti keduanya akan bertemu dalam kobaran pertikaian. Kalau William Shakespeare mengakhiri kisah Romeo dan Juliet dengan tragis karena cinta, cerita dua temanku yang namanya bernada sama ini akan khatam dengan kebencian. Dengan rasa bergidik aku membayangkan justru diriku ikut hancur karenanya.



Bersambung ke

Tuan Takur dan Terornya

Wednesday, December 28, 2011

Amphibian


Matahari bersinar terik siang itu. Aku membiarkan diriku dipagut rasa malas berusaha bersembunyi dari garangnya sinar matahari. Di bawah bayangan atap belakang rumah, aku duduk-dudak sambil menikmati hembusan angin. Aku lepaskan pandangan kepada tiga ibu-ibu yang sedang mencuci piring dan mengambil air di kolam, tidak jauh dari belakang rumah petak. Di sana, aku juga melihat Pajok dan Doni menemani ibu mereka sambil bermain air.
Ku dengar Pajok menyorak sambil melambaikan tangannya memanggilku. Ajakannya kubalas dengan senyuman dan gelengan. Mereka tidak begitu terpengaruh dengan penolakanku dan kembali mengaduk-aduk kubangan tempat pembuangan air cucian ibu mereka menggenang.
Yah, di belakang rumah kontrakan kami adalah lahan kosong - juga bekas sawah - yang lumayan luas. Di tengah lapangan yang ditumbuhi rumput ilalang itu terdapat kolam, bekas kubangan kerbau yang mata airnya tidak berhenti mengeluarkan air. Ibu-ibu dari Bagian Belakang sering mengambil air untuk masak dan mencuci di sana. Sementara anak-anaknya menjadikan kolam itu sebagai salah satu tempat bermain mereka. Anak-anak Muka menjauhinya karena dilarang orang tua mereka yang takut anaknya tercebur di sana.
Di dalam kolam itu banyak berudu yang kami sebut garundang berenang-renang. Sedangkan di pinggir atasnya, di balik batu-batu kasar sering bersua katak-katak besar. Katak-katak sawah itu akan melompat ke dalam sumur, berenang bersama garundang ketika mereka merasa kegerahan dan kekeringan atau ketika batu-batu tempat mereka sembunyi diusik anak-anak. Setiap malam terutama di musim hujan, katak-katak itu mendengkung keras sahut menyahut, menemani sepi Orang Belakang. Dengkungan mereka bahkan menyaingi kerasnya suara televisi Orang-orang Muka.
Sungguh suatu kebetulan kontrakan kami berada di sisi akhir paling ujung Bagian Muka yang berdekatan dengan Bagian Belakang. Maka, ibarat katak-katak di pinggir kolam itu, kami juga berada di antara dua habitat. Berhubungan baik dengan Orang Belakang tapi juga tidak bisa lepas dari Orang Muka.
Berada di antara Orang Muka dan Orang Belakang membuat aku belajar memahami kondisi sosial yang berbeda. Aku mengerti bagaimana sifat dan perangai Orang-orang Muka yang merasa bangga dengan kaya mereka. Aku juga paham dengan kesulitan dan pahitnya hidup Orang-orang Belakang.
Di usia kanak-kanak itu aku sudah bisa menyimpulkan bahwa orang-orang kaya suka segala puja-puji. Mereka bisa menjadi sangat ramah kalau disanjung, namun marah kalau ditandingi. Mereka pantang disama-samakan. Jangankan kalah, sama pun mereka tidak mau. Agar tetap diberlakukan berbeda dan istimewa, orang kaya jadi cenderung loba dan kikir. Semakin kaya, semakin tidak puas menumpuk harta dan semakin perhitungan pula mengeluarkan pundi-pundinya untuk orang lain. Kalaupun mau berdana, biasanya sifatnya ria.
Lain cerita, orang miskin justru suka dikasihani. Mereka menjadi terbuka kalau kesusahan dan derita mereka mau dipahami dan dimengerti. Walau terkadang gengsi, namun mereka jarang menolak saat diberi. Dengan alasan demi sesuap nasi, mereka rela menyusahkan dan merendahkan harga diri.
Akibatnya, orang miskin adalah komunitas empuk bagi orang kaya untuk dimanfaatkan dan diperdaya demi mempertahankan dan menumpuk harta mereka. Tidak heran kalau banyak orang tak punya yang benci dengan kaum berada. Meski sebenarnya kedua kelompok ini tidak bisa hidup tanpa salah satu di antara keduanya.
*
Peristiwa kekerasan yang dialami Uni telah menorehkan luka di hati kami, terutama Abah dan Ibu. Bagaimana tidak, Abah dan Ibu belum pernah sekalipun melekatkan tangannya pada kami, seberapapun nakalnya kami. Tapi hanya karena sebuah termos tua, Uni ditangani dan dijadikan sasaran latihan silat anak tetangga yang merasa dirinya hebat dan kaya.
Sejak kejadian itu, tidak cuma posisi kerja Abah dan Ibu yang berputar balik. Ibu lebih preventif dan makin sulit beradaptasi dengan para tetangga Bagian Muka. Kepada kami Ibu jadi lebih nyinyir soal pergaulan. Di atas semua itu, Ibu selalu menekankan kekurangan keluarga kami agar kami anak-anaknya bisa lebih tahu diri. Saat itu aku merasa betul-betul tinggal di keluarga miskin. Definisi kemiskinan itu adalah keluarga kami.
“Kalian rukun-rukun dan bermain sajalah bertiga di rumah. Kita ini miskin, tidak perlu ikut-ikut bergaul dengan orang kaya itu. Mereka tidak akan mau berteman dengan orang tak mampu seperti kita,” pesan Ibu selalu sebelum berangkat ke pasar.
Doktrin ibu dan pengalaman buruk Uni membuat kami sedikit traumatis. Kami jarang  main ke rumah Anak-anak Muka. Petuah Ibu telah memengaruhi kami; kami jadi lebih tahu diri dan tidak penuntut. Kami jadi sadar kekurangan kami. Untuk meminta sesuatu yang diperlukan sekalipun kami berhati-hati, karena takut Abah dan Ibu belum tentu mampu menyanggupi.
Tapi anak-anak tetaplah anak-anak. Walau masih membekas di hati, kebencian pada Anak-anak Muka tidak bertahan lama. Dendam itu tidak bersarang di hati. Meski tidak lagi bertandang ke rumah Anak-anak Muka, kami tetap saja bermain bersama mereka. Uni sesekali masih bermain dengan kawan-kawannya, Abang dan aku juga bermain dengan anak-anak sepantaran kami.
Karena kami tidak lagi bermain ke rumah mereka, merekalah yang bertandang ke rumah kami, membawa mainan mereka sendiri. Sepanjang kami ikut senang, Abah tidak mempersoalkan kehadiran anak-anak lain di rumah. Masalah justru datang dari orang tua kawan-kawan kami itu. Tidak sekali dua kali Anak-anak Muka itu dijemput paksa orang tuanya atau dilarang main ke rumah kami.
Selain dengan Anak-anak Muka, jaringan pertemananku turut berkembang dengan Anak-anak Belakang. Bersama mereka aku menemukan banyak kesamaan dan kesenangan. Bermain dengan anak-anak belakang adalah memasuki dunia fantasi anak-anak yang sesungguhnya. Aku tidak perlu membawa-bawa mainan pabrik karena anak-anak belakang tidak mengandalkan mainan artifisial untuk hiburan. Mereka kreatif mengeksplorasi imajinasi untuk memenuhi keliaran anak-anak. Mereka bisa melakukan apa saja demi keasikan dan kesenangan. Dan bagi mereka alam telah memberikan lebih dari cukup untuk semua itu.
Bersama Anak-anak Belakang aku bisa terlibat dalam petualangan. Kami menjelajah Bukit Sijundai, menelusuri aliran anak sungai di sepanjang kaki bukit sambil menangkap ikan dan mencari pensi. Di tempat-tempat alami seperti itu aku menikmati aksi seru dan menegangkan; Menjadi detektif atau berburu hantu. Kami mengembara dalam perseteruan khayalan di dunia persilatan nan penuh misteri. Kami bertarung menirukan laga lakon drama radio Saur Sepuh yang sangat populer saat itu. Kami berteriak “Ciaat..!”, melompat seolah terbang dari satu pohon ke pohon lain, bersilat dan kadang menguji adrenalin dengan meluncur dari pinggang bukit di atas pelepah kelapa.
Kadang kami terlibat dalam epos peperangan imajinatif antara tentara Indonesia melawan Belanda, bersenjatakan pistol yang dibuat dari potongan papan bekas dan pelepah pisang. Lapangan, rimbunan semak, gundukan bekas pematang sawah dan pepohonan adalah arena tempur kami.
Pemenang dari setiap peperangan dan pertempuran itu biasanya bersifat suka rela. Mereka yang kelelahan dan kecapean biasanya mengalah dan mundur dengan cara pura-pura tewas kena tembakan atau berbagai ilmu dan ajian lawan main.
Selain itu ada pula aksi Serangan Pasar. Biasanya aksi ini kami lakukan usai mandi-mandi di kolam. Syafri, dedengkot anak paling tua di komunitas Anak Belakang mengomandokan kami pergi ke Pasar Bawah mencari berbagai macam bahan masakan yang dipungut dari sisa-sisa atau jualan pedagang yang tercecer. Invasi itu biasanya menghasilkan beberapa butir cabe, bawang, ikan asin, patahan kerupuk, helai-helai sayur yang dibuang, kentang, dan berbagai bahan masakan lainnya.
Bahan yang terkumpul kami masak. Alat memasak dan kekurangan bahan dilengkapi oleh anak-anak yang mencuri-curi dapur ibu mereka. Selanjutnya tiap anak membawa sendiri nasi dari rumah untuk di makan dengan lauk dan sayur hasil operasi kami. Masakan kami beragam, mulai dari tumis sayur, ikan asin goreng balado, nasi goreng bahkan kalau kami beruntung kami bisa masak asam pedas dengan bermacam isi sayur dan lauk. Entah karena lapar setelah bermain dan masak, namun rasa masakan dari bahan-bahan sisa dan buangan itu selalu terasa enak.
Tidak selamanya setiap aksi seru kami dibiarkan orang tua anak-anak belakang begitu saja. Ketika kami bergerombolan pulang dalam keadaan kumal dari bukit, Ibu Anto yang suaminya buruh angkat di Pasar Bawah sering memberi teguran.
“Kalian kalau mandi-mandi jangan tengah hari, bisa-bisa nanti kalian tasapo[1]! Dan kamu!” tegurnya galak sambil mengarahkan telunjuknya ke hidungku “Anak Muka main pula ke belakang. Nanti orang tua kamu marah karena main-main ke sini,”
Kalau sudah begitu, aku hanya bisa tersenyum masam dan kembali lari ke muka, untuk berganti habitat.

Bersambung ke

Romi dan Juli



[1] Kesurupan. Orang-orang tua meyakini kalau main ke daerah berair seperti sungai atau kolam di waktu-waktu salat akan gampang kesurupan

Monday, December 19, 2011

Mr. Mom


Seperti pagi-pagi sebelumnya, Abah telah selesai mengerjakan pekerjaan rumah sebelum matahari merangkak tinggi. Abah telah menyudahi urusan dapur sehingga ketika kami, ketiga anaknya bangun, tidak perlu berlama-lama merengek meminta makan. Kain kotor telah pula siap dicuci.
Setiap pagi setelah bangun, rumah kontrakan yang cuma punya satu ruang tamu, satu kamar tidur dan dapur yang sekaligus menjadi ruang makan itupun kami dapati tidak lagi berantakan seperti saat kami tinggalkan sebelum tidur. Sementara itu, Ibu telah lebih dulu berangkat ke pasar untuk berjualan cabe dan sayur mayur. Ibu baru pulang sore, menjelang azan Magrib berkumandang.
Dari sudut pandang budaya, lakon hidup yang diperankan Abah dan Ibu bertentangan dengan jamaknya peran pasangan suami istri di Minangkabau. Ibu yang mencari uang sedangkan Abah bertanggung jawab untuk urusan rumah tangga dan mengurus anak-anak. Kalau pagi hari Ibu sudah berangkat ke pasar, maka pagi hari Abah berbalut sarung dan berbaju singlet sudah siap pula dengan kerjanya menjemur kain di depan rumah.
Pembagian lakon yang tidak lumrah antara Abah dan Ibu ternyata menggelisahkan warga Kampung Paduan, terutama kelompok Orang Muka. Bagi mereka kondisi ini sangat tidak wajar, mengusik hati para kepala keluarga dan ibu rumah tangga. Pada para suami, apa yang dilakukan Abah adalah penghinaan dan dianggap telah merendahkan maskulinitas seorang kepala keluarga. Sementara para istri menaruh iri pada Ibu namun mencerca dengan menuding sebagai istri durhaka dan otoriter.
Kalau dikaji, peran Abah dan Ibu yang dianggap bertentangan dengan kejamakan di tengah masyarakat itu tidak berlawanan dengan budaya Minang nan menganut paham matriarki. Substansinya budaya kami menyenyajarkan posisi pria dan wanita dalam berusaha, baik dalam urusan domestik maupun professional dan membebaskan perempuan dalam mengambil keputusan.
Itu adalah idealnya. Pada masa itu, perempuan boleh saja bekerja namun segala urusan rumah tangga tetap tidak lepas dari tangan mereka. Laki-laki pantang turun ke dapur. Kaum pria bebas mengelana, bekerja di luar, maota-ota[1] sambil main domino di lapau atau mempertebal agama dan tidur di surau, namun ketika pulang, mereka tetap meraja. Kepada para perempuan di rumahlah kain kotor mereka diberikan dan tempat syahwat dilepaskan. Perempuan bisa dicap tidak bermartabat kalau membiarkan suami ikut mengurus dapur sumur dan kasur.
Di tengah diskursus nilai matriarki itu, pergantian peran Abah dan Ibu adalah sebuah kejanggalan, penghinaan dan tidak memiliki nilai kepatutan. Abah dan Ibu dikucilkan. Keluarga kami hidup di tengah atmosfir kedengkian, hujanan gunjing, cacian dan penghinaan. Abah disebut suami takut istri, kepala rumah tangga pandir yang mau diatur saja istrinya. Dan Ibu dinilai otoriter yang tidak percaya pada suami. Akibatnya, keluarga kami sering tidak diajak ikut pertemuan warga yang menyangkut kegiatan Orang Muka. Ketika Abah atau Ibu melewati kumpulan Orang-orang Muka itu, pandangan merendahkan, cibiran dan sindirian selalu mengiringi.
Kata Ibu, sebenarnya bukan cuma perbedaan tugas rumah tangga antara Abah dan Ibu saja yang membuat keluarga kami direndahkan para tetangga. Kondisi perekonomian kami yang memang tidak semapan keluarga Orang Muka lainnya membuat kami terpinggirkan. Pergantian tugas antara Abah dan Ibu adalah bukti ketidakmapanan keluarga kami di lingkungan mereka. Bagi mereka, kehadiran kami di bagian muka adalah suatu kesalahan. Kami ibarat stetes nila dalam sebelangan susu, secuil noda di kain cucian atau tahi lalat di wajah mulus Cici Paramida yang harus dibuang.
Betul kami tidak kaya tapi kami juga bukan keluarga miskin. Perlakuan Perlakuan Orang-orang Muka itulah yang membuat kami merasa lebih miskin dari keadaan sebenarnya. Kami hidup sederhana,  tidak berkekurangan. Setidaknya Abah dan Ibu selalu memenuhi kebutuhan perut kami dengan makanan enak dan bergizi. Kami tidak pernah merengek dan sakit karena kelaparan. Di saat anak-anak muka bisa pamer mainan buatan pabrik, kami juga beroleh mainan walau itu buatan rumahan yang dijajakan di pasar atau mainan buatan tangan Abah dari barang bekas. Baju yang melekat di badan pun tidak bercela. Berbaju baru anak-anak muka itu di hari lebaran, kami pun demikian.
Tidak dipungkiri ada hal-hal di luar kebutuhan pokok yang belum bisa dipenuhi Abah dan Ibu saat itu.  Ketika anak-anak lain asik menonton film Si Unyil sambil bergolek-golek nyaman di rumah mereka, kami cukup menonton sambil berdiri dari luar jendela rumah mereka. Sesekali kaki perlu dihentak-hentakan kalau sudah terasa kejang atau kesemutan karena dijalari kawanan semut merah yang bersarang di retakan pondasi rumah. Kalau suasana hati pemilik TV sedang tidak baik, mereka menutup kaca jendela rumahnya dan membiarkan kami menonton di luar. Kami pun menduga-duga kata-kata yang diucapkan orang dari dalam TV itu. Di saat anak-anak lain bersemangat bercerita tentang Megaloman, tokoh robot yang mereka tonton di video, aku dan abangku hanya bisa menyimak takjub sambil membayangkan bagaimana rupa robot berambut api dari Jepang itu. Urusan tontonan kami lumayan ketinggalan.
Hinaan tidak hanya pada orangtuaku saja tapi juga diterima Uni[2], Abang dan aku. Kami yang masih kanak-kanak kerap dipinggirkan dari anak-anak mereka. “Buat apa mengajak anak penjual sayuran itu ke rumah? Bentuk tidak ada teman lain saja. Bawa saja mereka main di luar!” kata mereka pada anak-anaknya. “Kalian tidak tahu malu, badan kotor dan bau sayur busuk, main pula ke sini. Jauhlah main dari sini”.  Kadang-kadang, “Main di belakang saja!”, serta ucapan-ucapan mengusir dari orang tua teman-teman kami yang anak muka.
*
Sebetulnya, pergantian peran antara Abah dan Ibu karena dipaksa keadaan. Abah berasal dari keluarga miskin. Ia yatim sejak berusia lima tahun. Pendidikannya terhenti, saat memasuki usia akil baliq karena terpaksa bekerja demi membantu Biye[3]-nya. Berbagai macam pekerjaan ia lakoni dan terakhir ia merantau dan bekerja sebagai tukang masak di sebuah rumah makan Padang di Pekanbaru.
Sama halnya dengan Abah, Ibu juga berasal dari keluarga miskin. Konon dulunya Inyik-ku, Ayahnya Ibu adalah orang yang cukup berada. Seorang Penjahit yang sukses. Pelanggannya adalah pejabat-pejabat yang bekerja pada kumpeni. Namun saat Ibu berusia dua tahun, Ayahnya meninggal. Katanya kena tuba oleh orang yang tidak suka dengan keberhasilannya. Sejak itu, kehidupan Nenekku dan anak-anaknya terjun ke titik nol. Ibu sendiri tidak pernah ingat bagaimana rasanya hidup senang. Yang pasti, masa kanak-kanaknya sudah dihabiskan untuk membantu Amay[4]-nya. Memasuki usia remaja, Ibu merantau ke Bukittinggi dan  akhirnya bekerja pada Antan[5] dan Udo[6],  kerabat Ayah yang menjadi toke cabe.
Seperti sudah digariskan nasib, pertemuan Abah dan Ibu terjadi di Pasar Bawah. Saat itu Abah pulang kampung dan bertemu dengan Ibu yang menjadi anak buah Antan. Abah jatuh cinta pada pandangan pertama. Hatinya tergetar melihat Ibu dan terbesit keinginannya untuk menjadikan Ibu sebagai istri.
Tapi Ibu bukanlah perempuan yang gampang ditaklukan. Latar belakang keluarga yang juga miskin sehingga takut dipermainkan membuat Ibu tidak yakin. Terlebih lagi didikan para tuan-nya[7] yang melarang untuk berhubungan dengan laki-laki membuat Ibu takut.
Dulu, perempuan Minang sangat takut pada tuan mereka. Kata-kata tuan sama dengan kata-kata seorang Bapak pada anak-anaknya. Ibu serta seluruh saudara perempuannya takut kalau ketahuan ditaksir atau berhubugan dengan laki-laki. Itu pantang. Pernah suatu kali, kakak sepupu ibu diadili para tuannya karena kedapatan menerima sepucuk surat cinta dari seorang laki-laki. Dia disekap di kamar kemudian ditakut-takuti akan disulut dengan potongan kayu bakar yang langsung diambil dari tungku perapian. Sejak saat itu, ibu dan semua saudarinya takut menjalin hubungan dengan pria. Bahkan untuk berjalan sendiri pun para perempuan itu harus hati-hati, takut jika dibelakang mereka ada laki-laki mengiringi dan dicurigai memiliki hubungan khusus mereka. Urusan jodoh, biarlah urusan Bapak dan Ninik Mamak saja.
Tampilan fisik Abah juga menjadi salah satu pertimbangan Ibu. Abah adalah lelaki pendiam yang bagi sebagian perempuan dianggap cool. Meski bertubuh sedikit di bawah medium size, namun Abah memiliki tampang di atas rata-rata. Kulit putih, rambut lebat bergelombang, alis tebal tapi rapi melindungi matanya yang tajam. Kalau dimirip-miripkan, Abah seperti Barry Prima, aktor laga yang populer di masa delapan puluhan. Dengan modal tampang saja, Abah bisa menaklukan hati banyak perempuan. Dan ini pula yang ditakuti Ibu, jangan-jangan Abah adalah satu dari sekian lelaki tampan berhati buaya.  
Sulitnya mendekati Ibu membuat Abah meminta bantuan Antan dan Udo untuk meyakinkan anak buahnya itu. Kegigihan Abah meluluhkan hati Ibu. Pinangannya juga diterima keluarga besar Ibu. Pada akhirnya mereka pun menikah di usia yang cukup muda.
Tapi meski ijab kabul usai dibacakan dan perhelatan selesai diadakan, Ibu belum serta merta mau menyerahkan dirinya pada Abah. Ibu lagi-lagi menanyakan kesungguhan Abah untuk berumah tangga bersamanya. Sebagai bentuk keseriusanya, Abah berjanji meninggalkan pekerjaannya di rantau dan bersedia memulai hidup baru bersama Ibu. Malam pertama mereka baru terjadi delapan hari usai pesta pernikahan.
Sejak menikah hingga Uni dan Abang lahir, Abah dan Ibu masih tinggal satu kontrakan dengan Antan dan Udo. Antan dan Udo pasangan tua yang tidak memiliki anak dari hasil pernikahannya tetapi memiliki banyak anak asuh yang dididik untuk berdagang. Bagi mereka keberadaan Abah dan Ibu di kontrakan yang sama setidaknya menjadi pengusir sepi setiap pulang dari pasar. Malah, kelahiran Uni dan Abang sekaligus jadi pengobat rindu bagi mereka akan kehadiran anak.
Sebelum Uni berusia genap lima tahun, dan Abang tiga tahun, Abah dan Ibu memutuskan untuk mulai mandiri. Selain mencari tempat baru untuk berjualan cabe dan sayuran sendiri, mereka juga mencari kontrakan baru yang tidak terlalu jauh dari pasar. Ibu mulai menjual cabe di kaki lima, berdampingan dengan los pedagang ikan asin. Untuk tempat tinggal, mereka mendapat rumah kontrakan di Kampung Paduan, di bagian muka.
*
Bagian muka Kampung Paduan ditinggali para materialistis diskriminatif dan pegunjing. Sebuah kumpulan yang sarat kedengkian. Bagi penghuninya segala sesuatu dinilai dengan berbagai rupa kemewahan duniawi. Martabat para suami terletak di penghasilan, jabatan dan pangkat. Gengsi para istri diukur dengan segala kelengkapan perabotan rumah dan aksesori ragawi.
Hari pertama menginjakkan kaki di Kampung Paduan, aroma diskriminasi sudah dirasa. Saat barang-barang kami yang tidak seberapa diantar tukang gerobak ke rumah, istri si pedagang daging berujar ke Ibu “Kenapa tidak mencari rumah di belakang saja? Murah dan pas dengan kalian.” Di belakangnya beberapa Ibu-ibu mengangguk sambil tersenyum dengan ujung bibir tertekuk ke bawah.
Pahit hidup yang dijalani Abah dan Ibu sejak kecil membuat mereka menganggap berbagai hinaan sebagai angin lalu saja. Toh, cemoohan para tetangga itu tidak lebih berat dari apa yang sudah mereka alami. Lagi pula, Abah dan Ibu adalah tipikal orang yang tidak banyak bicara dan bukan penentang.
*
Sebelum Abah memutuskan menjadi bapak rumah tangga, hingga usiaku empat tahun Abah dan Ibu masih bekerja di pasar berdua. Di rumah, kami diasuh Udo yang sengaja datang ke kontrakan kami. Di antara anak-anak asuhnya dan di antara kerabatnya, Antan dan Udo lebih dekat pada keluarga kami. Bagi Udo yang kami panggil Amak, dan Antan yang kami panggil Ata, kami adalah favorit mereka. Kami dimanja dan diperlakukan seperti anak sendiri.
Suatu hari, Uni dan kawan-kawannya diajak Nova bermain di rumahnya. Nova adalah Anak Muka yang kedua orang tuanya pedagang pakaian di Pasar Atas. Saat keasikan bergelut, tanpa sengaja Uni didorong salah seorang temannya. Tidak sempat menghindar Uni pun menyenggol termos air yang ada di atas meja makan. Kaca termos pecah berderai di dalamnya. Canda anak-anak perempuan cilik itupun terhenti, semuanya kontan terdiam. Uni pucat pasi. Yelsi, Kakak Nova yang berusia tiga tahun di atas Uni tiba-tiba muncul, menggertak menanyakan pelaku yang memecahkan termos itu. Wajah Uni makin memutih melihat murka yang terpancar di wajah Yelsi. Uni membatu saat Nova dan teman lainnya langsung mengarahkan tunjuk mereka padanya.
Yelsi yang bertubuh tinggi berisi hasil tempaan latihan silat mendekati Uni. Uni bergidik cemas. Tiba-tiba tangan keras Yelsi menarik baju Uni dan mendorongnya hingga terhenyak ke dinding. “Anak penjual sayur sialan! Pindahlah kalian ke belakang!” teriaknya geram sambil kembali menarik tubuh kecil Uni dan selanjutnya menendang keras perut Uni. Uni terduduk tak berdaya saat sepakan itu mendarat di perutnya. Matanya nanar dan selanjutnya ia tergolek di kaki meja makan.
Uni baru sadar ketika sudah berada di rumah. Dia mendapati amak menangis cemas sambil mengusap-usap kepalanya serta Abang dan Aku yang menatap khawatir ke padanya. Malamnya, Ibu dan Abah menemui orang tua Nova dan meminta agar anaknya untuk tidak lagi menyakiti kami secara fisik.
“Kami memang bukan orang kaya, tapi kalau untuk sebuah termos yang pecah kami masih sanggup membayar penggantinya. Tidak perlulah ia dipukul dan ditendang. Mohon sampaikan pada anak-anak Ibu agar jangan menyakiti anak kami lagi,” pinta ibu berurai air mata selanjutnya menyerahkan uang pengganti termos yang telah pecah. Mama Nova diam tanpa ekspresi sambil menarik uang yang diulurkan Ibu tanpa mengucap sepatah kata maaf pun atas tindakan anaknya.
Demi menjaga keselamatan kami, sejak itu Abah memutuskan menjadi Mr. Mom bagi kami. Abah mau mengalah karena Ibu lebih kaya pengalaman dalam berjualan.



Bersambung ke

Amphibian



[1] ngobrol-ngobrol
[2] Kakak Perempuan
[3] Bahasa lama Minangkabau untuk sebutan Ibu
[4] Bahasa lama Minangkabau lainnya untuk sebutan Ibu
[5] Panggilan untuk kakek
[6] Panggilan untuk nenek yang paling muda
[7] Panggilan untuk saudara laki-laki tertua